Select Menu

clean-5

Kabar Komunitas Cahaya

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Mencari 'Sukrasana' di Negara Indonesia

Oleh: Indra Tranggono *

MENEMUKAN pemimpin sekaliber Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka terlalu mewah bagi bangsa kita.

Dalam degradasi watak manusia Indonesia yang serius, kini kita hanya butuh pemimpin yang memiliki kapasitas orang baik yang mrantasi (memberi solusi).

Kriteria orang baik itu mungkin bisa kita temukan dalam sosok Sukrasana, tokoh dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi sakti dan berwatak mulia. Ahli filsafat dari UGM, Damarjati Supadjar, memaknai Sukrasana sebagai ”suka sarana” atau memberikan jalan penyelesaian atas masalah. Makna itu merupakan analogi dari watak solider Sukrasana. Ia selalu siap berkorban untuk kepentingan orang lain, atas dasar cinta dan pengharapan mewujudkan dunia yang ideal.

Sukrasana bahkan tak pernah berhitung untung dan rugi atas pilihan itu. Termasuk ia harus terbunuh oleh kakaknya sendiri, Bambang Sumantri. Padahal, sang kakak telah dibantunya hingga berhasil menjadi bagian dari elite kekuasaan raja agung Harjuna Sasrabahu.

Sukrasana adalah monumen kesetiaan, integritas, dan komitmen yang telah menjadi rujukan kolektif. Dalam jagat politik kita yang dikuasai pencitraan ala Arjuna yang serba kinclong dan moblong-moblong (pesona diri yang berlebihan), Sukrasana menjadi antitesis yang sangat strategis. Ia melawan arus besar kegandrungan publik atas pemimpin yang memiliki keindahan citra fisik dan mentalitas manusia salon.

Terbukti, para pemimpin ala Arjuna itu tak memberikan perubahan signifikan bagi bangsa ini. Sebaliknya, bangsa ini justru harus melayani segala kemanjaan para ”Arjuna”, sekaligus jadi tong sampah bagi keluhannya.

Lebih menyedihkan lagi, para ”Arjuna” itu sering ngabul-abul (mengacaukan) kas kerajaan untuk membiayai kepentingan dirinya yang tidak terbatas. Anggaran pendapatan dan belanja kerajaan pun sering kali mereka gerogoti secara sistemis.

Kewajiban profetis

Manusia ”Sukrasana” tak memiliki mentalitas borjuistis-hedonistis ala Arjuna. Ia adalah manusia esensi atau manusia substansi yang tak butuh rumbai- rumbai artifisial dan mentalitas kemaruk. Ia telah mencapai titik kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan; sebuah fase di mana ia mampu melenyapkan seluruh ego dan superegonya.

Ia selalu berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekadar titah, makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban profetis, semacam tugas kenabian untuk membeberkan dan mewujudkan nilai-nilai ideal kehidupan. Satu-satunya pamrih dalam dirinya adalah pencapaian cita-cita yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bukan ingin dipuji atau merampas simpati publik.

Bagi manusia ”Sukrasana”, segala pencitraan tak lebih dari kosmetik untuk menutupi berbagai borok, baik borok personal, borok politik, maupun borok sosial. Sukrasana tak butuh bedak dan gincu pencitraan karena ia tak punya borok. Ia sangat percaya diri untuk tampil lugas, apa adanya, penuh sikap kesatria. Ini dadaku, mana dadamu, begitu ia berucap tanpa niat sombong, tapi tegas dan berani.

Kesederhanaan, kejujuran, kepatutan, dan kelayakan menjadi dasar kehadiran manusia ”Sukrasana”. Sikap ini bisa dimaknai sebagai asketisisme, pengekangan diri atas godaan duniawi yang menjebak manusia pada kubangan lumpur artifisialitas dan akhirnya bisa mengubah watak seseorang menjadi culas.

Konkretnya, karena manusia ”Sukrasana” adalah manusia esensi dan substansi, ia tidak membutuhkan cash flow tinggi untuk mengongkosi segala kegenitan dan kerakusan yang umumnya diidap manusia kebanyakan. Alhasil, manusia ”Sukrasana” tak perlu merendahkan diri menjadi pembobol APBN atau ”bertiwikrama” menjadi koruptor.

Sinergi elemen bangsa

Kita yakin bangsa ini memiliki manusia-manusia ”Sukrasana” meskipun jumlahnya sangat kecil. Mereka bisa berada di gerbong-gerbong kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) atau di lembaga-lembaga pendidikan, budaya, sosial, dan politik.

Dalam jagat kekuasaan yang dihegemoni oleh para raksasa dan rakseksi, manusia-manusia ”Sukrasana” cenderung tidak diberi atau mendapat tempat. Mereka malah justru dianggap sebagai gangguan, bahkan tak jarang dianggap ancaman. Kejujuran selalu jadi energi anomalis bagi struktur kejahatan.

Langkah terbesar dan strategis seluruh elemen bangsa ini adalah menghadirkan manusia-manusia ”Sukrasana” dalam kontestasi politik pada Pemilu 2014. Partai- partai politik, lembaga-lembaga sosial, budaya, agama, pendidikan, pers, dan seluruh pemangku kepentingan lain bangsa ini bisa membangun sinergisitas untuk memunculkan manusia-manusia berkaliber ”Sukrasana” menjadi pilihan rakyat.

Ini momentum penting untuk mengubah Indonesia yang punya masa depan konstitusional. Tentu saja bukan kedaulatan berlanggam kapital dan pasar yang dikendalikan kekuatan asing dan para makelar kekuasaan!

* Indra Tranggono - Pemerhati Kebudayaan Tinggal di Yogyakarta

Sumber: kompas.com . Judul asli: Mencari Sukrasna



Dokumen - Komunitas Cahaya

Misteri Bendera Merah Putih Watak Asli Bangsa Nusantara



Oleh: Sufyan al Jawi

BILA anda pernah nonton film dokumenter Pengusiran Tentara Amerika di Saigon (kini; Ho Chi Minh). Ada suatu peristiwa yg unik; tank-tank Viet Nam Utara, berbendera Merah Putih, merangsek menyerbu pertahanan militer AS dgn gagah berani.

Bahkan di Museum Perang Viet Nam, bendera Merah Putih terpajang di ruang pameran benda-benda bersejarah negeri itu. Memang, dulu gara-gara peran Indonesia, Viet Nam akhirnya mampu mengusir AS!

Setelah ditelusuri, ternyata Pataka Dwi Warna (Merah Putih) telah dikenal oleh rakyat pribumi Viet Nam (Bangsa Champa), yang memang terkait dengan Imperium Nusantara - Majapahit.

Hingga kini belum ada Sejarawan yang mampu mengungkap Misteri Bendera Merah Putih dengan benar. Meskipun ada yng menduga bahwa Pataka ini sudah digunakan sejak zaman Singhasari.

Yang jelas, Raden Wijaya - Pendiri Majapahit, telah menggunakan Bendera Merah Putih (Seperti saat ini. Bukan seperti ilustrasi "bodoh" pada gambar kartun di Wikipedia, loh?), tatkala Majapahit mengusir Belasan ribu sisa-sisa tentara Mongol - Kubilai Khan, pada 1293. Dengan kekalahan telak Mongol terhadap Jawa, maka Kerajaan Mongol runtuh seketika. Bahkan raja-rajanya pontang-panting diuber-uber rakyat China.

Ketika Belanda menguasai negeri kita, sebagian besar rakyat Nusantara tetap setia pada Pataka Merah Putih, meski dalam wujud yang berbeda. Misalnya; Bubur Merah Bubur Putih, Lilitan bendera Merah Putih pada tiang atap rumah/bangunan saat pendiriannya, Gula-Kelapa (Merah Putih) dan sebagainya.

Itulah kenapa gerakan kebangsaan di negeri kita, dulu menggunakan bendera Merah Putih sebagai simbol aspirasi politik.

Seputar Kisah Pataka Merah Putih
Usai Euforia Kemerdekaan RI, Soekarno bergegas meruwat Pataka Merah Putih di Situs Majapahit, tepatnya di Desa Panggih, Trowulan.

Begitu pula saat Soeharto menjadi Presiden RI, menggantikan Soekarno, juga bergegas meruwat Pataka Merah Putih di Situs Majapahit, tepatnya di Siti Hinggil, Desa Bejinjong, Trowulan.

Jum'at kemarin (3/1/2014) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelang karir presidennya, mengujungi Situs Majapahit (kemana aja selama ini? )

Misteri Bendera Merah Putih?
Puak Melayu tak asing dengan Bendera Merah Putih, warisan Imperium Nusantara - Majapahit. Lihat saja bendera Merah Putih dengan Dua belas Bintang sebelum Kemerdekaan Malaysia, juga Bendera "Sang Saka Rakyat Kemerdekaan Malaya" yang berupa; Merah Putih dengan Bulan Sabit dan Bintang Fajar (lambang Malaysia).

Akhirnya Malaysia memilih bendera umbul-umbul Majapahit yang mirip dengan bendera Amerika Serikat. Namun keberadaan bendera yang mirip dengan Bendera AS, menjadi masalah saat misi perdamaian pada Pemilu di Afghanistan, 2004-2005. Mereka diminta untuk tidak menggunakan bendera Malaysia itu, karena kuatir menjadi serangan yang salah sasaran bagi Mujahidin di sana.

Merah Putih nampak pada Bendera Negara Malaka, dan juga pada bendera-bendera partai pribumi, seperti; UMNO "Sang Saka Bangsa" (merah putih dengan keris hijau ditengah bulatan kuning), PAS (bendera PAS lama; merah putih dengan bulatan hijau), PBB - Parti Bumi Putera Bersatu di Serawak, dan sebagainya.

Juga dengan bendera Singapura - Merah Putih dengan Bulan Sabit dan Lima Bintang, yang diusung oleh Yusof bin Ishak, Yang Dipertuan Agung Singapura (1959-1965), dan Presiden Pertama Singapura (1965-1970). Yusof bin Ishak adalah keturunan Indonesia, ayahnya dari Minangkabau, dan ibunya dari Langkat, Sumatera Utara.

Dalam buku Sejarah Singapura, Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri 1959-1990, tak mampu menolak keinginan Masyarakat Singapura yang menghendaki Bendera Merah Putih sebagai Bendera Negara itu.

Tengok pula Bendera Merah Putih Republik Islam Patani Raya (merah putih dengan bulan sabit dan bintang pada dasar warna hijau), pimpinan Haji Sulong. Maupun Bendera Merah Putih PULO.

Pada sebagian puak Melayu, Bendera Merah Putih, kadangkala ditambah dengan unsur warna Hitam, seperti di Sumatera Barat dan Bali.

Sejak awal abad ke 19 (era 1800-an), di Kalimantan dan Sumatera Barat, diduga karena ada tekanan dari pihak Kolonial Belanda, maka Warna Putih pada Sang Pataka, harus diganti dengan warna Kuning. Padahal Warna Putih (Suci) maknanya lebih agung daripada Warna Kuning (Raja). Maka jadilah Sang Pataka Merah Kuning pada Masyarakat Adat Melayu - Dayak, dan Sang Pataka Merah Kuning Hitam pada Masyarakat Adat Minang.

Begitu pula, Merah Putih nampak pada bendera-bendera pemberontak di Indonesia, seperti; DI/TII dan PRRI/Permesta.

{Hasil riset tahun 1994-1996, tentang; "Penerbitan Uang Darurat Separatis Di Indonesia" < Judul ini dapat anda telusuri di Google. Seorang numismatis yang juga pengelola Majalah Arkeologi Indonesia, tanpa sepengetahuan saya - telah menulis ulang 3 buah naskah saya yang dahulu dimuat di Buletin PPKMU 1996. Namun karena beliau telah mencantumkan pula sumbernya, yaitu saya - Sofyan Sunaryo bin Samijan al Jawi, maka itu tidak apa-apa, karena merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah. }

Pada Suku Aborigin Marege di Tanah Arnhem, Darwin, Australia Utara, dan di Kayu Jawa, Australia Barat. Puak Melayu - Aborigin ini tidak mewujudkan Merah Putih sebagai bendera, tetapi justru menjadi perias wajah & tubuh mereka, saat perang atau upacara tertentu.

Sepeninggalan Imperium Majapahit, dan kemudian Kerajaan Gowa Tallo, Melayu - Aborigin ini tidak lagi mendapat perlindungan dari serangan musuhnya kelak (agresi Inggris di abad ke 19 - 20).

Bendera Merah Putih tidak dengan lugas dibahas oleh Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama. Hanya digubah samar-samar, seperti samar-samarnya Kisah Penyelamatan Prabu Jayanagara oleh Gajah Mada di Badander, seperti samar-samarnya kisah Perang Bubat. Mpu Prapanca hanya menggambarkan kisah seputar tamu-tamu negara bawahan, anggota imperium Majapahit yang tengah menghadiri pesta.

Sedangkan Lontar Kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular, menjelaskan filosofi Merah Putih yang kini populer, yaitu; Merah (Berani) karena Putih (Suci). Lontar kuno ini menjelaskan tentang Pangeran Sutasoma yang diculik oleh Manusia Raksasa sang Kanibal. Ia - dengan gagah Berani menghadapi si pemakan manusia ini, karena ia memiliki hati yang Suci. Dan seterusnya.

Dalam Lontar Sutasoma juga terdapat Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Wangrwa", yang juga populer - setidaknya di negara kita

Sejak Gajah Mada dipecat (1358), Hayam Wuruk nyaris kehilangan keseimbangan dalam menjalankan pemerintahan Wilwatikta (Majapahit). Untuk itu Ibu Suri Tribhuwana Wijayatunggadewi meminta Mpu Tantular agar menulis kisah yang dapat menarik hati putranya - Hayam Wuruk yang tengah dilanda kesedihan akibat matinya Dyah Pitaloka (kekasihnya) pada Peristiwa Perang Bubat. Maka digubahlah; Sutasoma.

Kembali ke kisah Bendera Merah Putih..
Setelah ditelusuri ternyata simbol Merah Putih sudah ada, jauh sebelum adanya Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Kadiri. Bahkan juga sudah ada pada zaman Kahuripan Airlangga. Sebab di Kerajaan Airlangga itu, penduduk yang beragama Islam sudah ada sejak abad ke 10. Yaitu keluarga Lor di Leran, Gresik.

Ini berarti, bendera Merah Putih kita lebih tua ratusan tahun umurnya daripada bendera Merah Putih-nya Monaco, atau bendera Putih Merah-nya Polandia.

Ada yang berteori bahwa Merah Putih adalah Simbol Warna yang terjadi pada saat Perang Uhud (tahun 625 M). Saat itu, Beberapa orang Sahabat yang telah baiat untuk melindungi Rasulullah SAW dengan jiwa raganya, mengenakan pita atau bendera Merah. Sedangkan mereka menggunakan pakaian putih2. Dalam Islam, bendera terdiri dalam dua warna, yaitu bendera Hitam dan bendera Putih. Menurut saya, teori ini kurang tepat.

Tetapi teori yang lebih kuat menjelaskan, bahwa Simbol Merah Putih sudah ada sejak zaman pra-sejarah Nusantara. Yaitu adanya keterkaitan dengan agama purba Nusantara.

Beberapa waktu yang lalu, Situs Makam Manusia Nusantara di sebuah Goa di pedalaman Gayo, Aceh, yang berusia ribuan tahun telah dieskavasi. Dan beberapa kali ditayangkan di MetroTV - dalam ekspedisi Ring of Fire. Di situs itu terungkap tentang Semua Jenazah Purba, yang dikubur dalam posisi seperti Janin dalam Kandungan ibunya.

Filosofinya; Manusia berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, ia dilahirkan ke dunia dalam keadaan Merah, harus berani menempuh liku kehidupan dengan niat yang Putih. Sebab, ia akan harus mati dalam keadaan Putih (Suci) agar dapat menemui Tuhan-nya di akhirat kelak. Ini ribuan tahun lebih tua sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia.

Lalu saya teringat Firman Allah SWT; "Hai Orang-orang beriman. Bertaqwa-lah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Dan Janganlah se kali-kali kamu mati, kecuali dalam keadaan Islam (Selamat, Suci)"

Inilah misteri bendera Merah Putih, yang merupakan watak asli Bangsa Nusantara.


Dokumen – Komunitas Cahaya

Nama Asli Gunung di Indonesia Sebelum Manipulasi Sejarah

NAMA ASLI GUNUNG-GUNUNG DI INDONESIA SEBELUM MANIPULASI SEJARAH

Pada jaman kejayaan para raja-raja di Nuswantara (Nusantara) semua gunung memiliki arti yang sakral. Dan membuat penamaan gunung-gunung tersebut memiliki arti yang tidak sembarangan pula.

Namun penjajahan Belanda (Eropa) selama ratusan tahun telah memutus Sejarah Asli Nuswantara dengan putra-putri penerus leluhur bangsa "Indonesia".

Diantaranya juga memutus sejarah nama-nama gunung dan mengganti nama-nama gunung yang tersebar di Nuswantara tersebut. Hal ini ada maksudnya, karena bila nama gunung diketahui oleh generasi penerus, maka akan diketahui pula kejayaaan dan harta-harta kerajaan-kerajaan yang umumnya hidup makmur kemah ripah loh jinawi berada disekitar gunung-gunung tersebut, dan tidak mungkin bila esok pagi akan bangkitnya kembali semangat untuk menuntut apa yang menjadi hak warisnya.

Kini saatnya, putra-putri di Nuswantara harus tahu kembali tentang yang sesungguhnya, bahwa bahasa utama para leluhur Nuswantara adalah bahasa Sansekerta. Pada awalnya nama-nama gunung di Nuswantara menggunakan bahasa Sansekerta, berikut nama-nama gunung tersebut:

A – K
• Bromo = Bromo (tetap)
• Cikuray = Prawitra
• Ciremai = Indrakila
• Dieng = Sang Hyang
• Galunggung = Kendyaga
• Gede = Katong
• Gunung Karang = Nisada
• Kawi = Kawi (tetap)
• Kelud = Kampud

L – R
• Lawu = Mahendra
• Merbabu = Limohan
• Muria = Retawu
• Papandayan = Gn Danghyang
• Penanggungan = Penanggunangan (tetap)
• Perahu = Baito
• Pulosari = Pulosari (tetap)
• Raung, dan gunung-gunung didekat gunung Raung Jawa Timur dulunya adalah gunung Semeru yg asli

S – Z
• Salak = Sapto Argo
• Slamet = Jamurdipa
• Semeru (yang sekarang) = Salaka
• Sumbing = Sungging
• Sundoro = Sundoro (tetap)
• Toba = Kelasa
• Ungaran = Sakya
• Welirang = Gora
• Wilis = Pawinihan

Beberapa nama gunung lainnya masih dalam pendataan.



Sumber: Agung BS/TS dan Editing Yuddi Aitiawan
Dokumen - Komunitas Cahaya

Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nusantara Purba

Oleh: Yuddy Aditiawan

Dalam banyak buku sejarah dikenalkan bahasa Sansekerta yang banyak ditulis dalam peninggalan artefak batu bertulis berasal dari induk bahasa India yang dibawa sebagai akibat pengaruh kedatangan bangsa India ke Pulau Jawa. Penduduk kepulauan ini berasal dari Indo-China. Tetapi di abad ke XXI baru dapat ditemukan bahwa teori tersebut memutar balikan fakta sesungguhnya.

Para ahli bahasa menyebut Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nusantara Purba, mengapa tidak menggunakan istilah bahasa Indonesia Purba? Nama Indonesia dikenal pada abad ke XIX. Istilah Indonesia untuk pertama kalinya ditemukan oleh seorang ahli etnologi Inggris bernama James Richardson Logan pada tahun 1850 dalam ilmu bumi.

Istilah Indonesia digunakan juga oleh G.W. Earl dalam bidang etnologi. G.W. Earl menyebut Indonesians dan Melayunesians bagi penduduk Kepulauan Melayu. Pada tahun 1862 istilah Indonesia digunakan oleh orang Inggris bemama Maxwell dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi.

Sedangkan penyebutan Jawa dikenal sejak abad ke 2 Masehi dalam karya Cladius Ptolemaeus dalam kitab Geographike Hyphegesis. Nama pulau Jawa dikenal dalam kitab tersebut dengan nama Chryse Chernesos artinya negeri emas dan semenanjung emas (seuai namanya berarti negeri ini dahulu kaya akan EMAS). Dalam kitab tersebut disebutkan nama sebuah tempat Iabadiou atau Pulau Jelai. Iabadiou dibaca Yawadiwu, Yawa bahasa sansekerta artinya Jelai, diwu bahasa pakrit dapat pula disebut dwipa dalam bahasa sansekerta.

Meskipun Prof. Krom sendiri tidak yakin akan hal ini, tetapi setidaknya nama Jawa sudah dapat dipahami pada masa itu. Pada tahun 732 Masehi pada Prasasti Canggal menyebut nama Dwipa Yawa, juga dalam berita Cina menyebut nama Yeh-p’o-t’i untuk pulau Jawa, meski beberapa sarjana menganggap” tidak harus diartikan sebagai pulau Jawa”. Bahkan prasasti di Angkor Wat menyebutkan bahwa pada abad  V Kamboja pernah diserang oleh pasukan dari Kerajaan Jawa sehingga porak poranda. Dan pada abad VII  Raja Jayawarman II menyerang kerajaan Jawa dan berhasil dengan kemenangan gemilang. Jadi nama yang dikenal di Cina, Kamboja dan India hanya dua nama yakni Suvarnnabumi dan Yawadwipa.

Bahasa Nusantara purba adalah bahasa Jawa tempo doeloe yaitu bahasa Jawa yang dikenal dalam keserumpunan bahasa Melayu Purba, digunakan di Malagasi dan beberapa tempat di daratan Asia Tenggara (Slamet Mulyana, 1964 ; 18-19), yang kemudian oleh J. Crawfurd melakukan penelitian kosakata dalam berbagai kamus mengenai bahasa-bahasa di Austronesia, yang diperbandingkan satu persatu, dengan bahasa Jawa, antara lain :

a. 8000 kata Malagasi ada 140 kata yang sama dengan bahasa Jawa

b. 4560 kata Selandia Baru ada 103 kata yang sama dengan bahasa Jawa

c. 3000 kata Marquesas ada 70 kata yang sama dengan bahasa Jawa

d. 9000 kata Tagalog ada 300 kata yang sama dengan bahasa Jawa

Bahwa angka kesamaan yang hanya sekitar 2% itu dianggap tidak ada kesamaan dalam keserumpunan, meski demikian ada dua hal yang patut untuk dicatat yaitu;

1) Bahwa orang “Indonesia” bukan berasal dari mana-mana bahkan merupakan induk sukubangsa di dunia yang menyebar ke seluruh penjuru dunia;

2) bahasa Jawa adalah bahasa tertua dan bahkan merupakan induk dari bahasa-bahasa Austronesia yang lain.

 Dalam hal ini P.J. Veth tidak sependapat mengenai bahasa Jawa sebagai bahasa Induk dari bahasa-bahasa Austronesia termasuk Wilhem van Humboldt (1836) tentang tanggapannya terhadap bahasa Jawa kuna yang disebut sebagai bahasa Kawi yang terintervensi oleh bahasa Sansekerta (Slamet Mulyana, 1992 ; 19) , tetapi setidaknya bahasa Jawa memiliki konten yang menarik untuk dipelajari, diteliti dan dikemukakan kepada masyarakat penutur bahasa Jawa khususnya.

Para peneliti bahasa Jawa pada saat itu hanya memelajari serat-serat kasusastran Jawa sebagai bukti peninggalan sejarah dari abad IX- XVII Masehi, sebab bahasa Jawa yang asli sudah sulit untuk diketemukan lagi karena pada saat itu sama sekali tidak dibukukan dalam bentuk kamus (bausastra Jawa) atau yang sejenisnya (Poerbatjaraka, 1952 ; vii).

Nampaknya kasus yang dihadapi bahasa Jawa purba tempo doeloe, adalah kehilangan saksi bisu yang berupa tradisi tulis (Poerbatjaraka, 1952 ; vii), dan ini sangat menyulitkan untuk melacak kesejarahan bahasa Jawa, sebelum lahirnya bahasa kawi atau bahasa jawa kuna.

Barulah ketika orang-orang India masuk ke Nusantara ini, kedua bangsa (pribumi dan migrant) ini mengadopsi tradisi tulisan yang kemudian dikembangkan secara turun-temurun (Poerbatjaraka, 1952 ; vii), dengan cara saling bertukar informasi dan terjadinya perkawinan antara pribumi dan pendatang.

Pada akhirnya ditentukan garis, sebagai batas waktu penelitian sejarah kebudayaan Jawa, yakni sejak masuknya kebudayaan India ke Austronesia (kepulauan Nusantara) dalam hal ini ke pulau Jawa.

Dari sekian perjalanan sejarah penguasaan asing di Nusantara, yang sangat dominan pengaruhnya dalam ke-bahasa-an Jawa adalah dari Bahasa Sansekerta dan Arab, pengaruh tersebut tidak hanya pada kosakatanya, tetapi juga dalam kaidah paramasastra banyak sekali dipengaruhi oleh kedua bahasa tersebut. Hal ini tentu saja tidak bisa dihindari lagi, karena hampir semua bahasa di dunia dipengaruhi oleh kedua bahasa tersebut (Hazeu, et al., 1979 ; 111-112).

Sejarah bergulir seiring dengan perjalanan waktu, bahasa Jawa purba akhirnya digantikan oleh bahasa Jawa kuna yang sebagian besar dipengaruhi oleh masa pemerintahan Hindu sejak zaman dinasti wamça Syailendra, dan wamça Sanjaya yang berturut-turut menguasai Nusantara ini, mulai dari Rakai Mataram 732-760 M sampai Rakai Watuhumalang dipertengahan abad IX (Sulaiman, 1980 ; 107) , dengan bukti teks Jawa kuna sebelum aksara Jawa kuna digunakan secara resmi, seperti pada prasasti Canggal 732 M, Kalasan 778 M, Karangtengah 804 M, Gandasuli 832 M, Perot 850 M, Ratubaka 856 M, Pereng 864 M, Argapura 864 M maupun Salingsingan 876 M.

Jarak antara peralihan bahasa Jawa purba (Sundik) ke bahasa Jawa kuna ini pun cukup panjang, mungkin beberapa abad, karena memang tidak ada bukti yang menandai perjalanan waktu tersebut, seperti artefak dan sejenisnya. Munculnya pengakuan atas kekuasaan yang pernah menguasai pulau Jawa tertua tentang dinasti Salakanegara, yang menyatakan telah berdiri jauh sebelum kerajaan Tarumanegara, maka setidaknya bahasa Jawa kuna atau sebelumnya, pernah digunakan oleh orang – orang Jawa pada jaman dahoeloe kala. Jika benar apa yang ditulis dalam naskah Wangsakarta tentang keberadaan kerajaan Salakanegara, yang pernah menggunakan bahasa Jawa purba, maka setidaknya bahasa Jawa itu sudah dikenal pada masa abad III Masehi, atau mungkin sebelum itu sekitar awal abad satu masehi.

Pengaruh budaya India dalam bentuk seni patung yang banyak ditinggalkan di Indonesia (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur), memberikan bukti bahwa budaya Hindu benar-benar menguasai di negeri ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari peninggalan yang berupa; artefak, prasasti, candi dan patung dewa-dewa termasuk patung Budha, adalah merupakan tanda bahwa keberadaan budaya Hindu maupun Budha pernah ada dan berpengaruh besar di Nusantara ini.

Peradaban dunia dalam tradisi bahasa tulis, yang sudah dimulai sejak jaman Mesir kuna, yakni dengan bukti berupa pyramid dan artefak lainnya, yang mungkin terjadi sekitar 6000 tahun yang silam. Yang secara berangsur-angsur peradaban itu bergeser sampai ke Yunani serta mengalami masa kejayaan ketika memasuki jaman Romawi, yang kemudian sejalan dengan proses dinamika kehidupan, peradaban itu bergeser ke India. Padahal bagi orang India (Hindu) sendiri sebenarnya mereka itu dibawah pengaruh orang Indo-Arya yang datang dari Iran migrasi ke India dan banyak mempengaruhi terhadap budaya yang dianut oleh orang India yakni Hindu termasuk dewa-dewa sampai pada penambahan kasta yang semula hanya tiga, dengan kasta çudra sehingga menjadi empat kasta (Cardozo, 1985 ; 3).

Ketika orang membicarakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nusantara, apakah itu politik, ideologi, budaya, sosial ekonomi maupun pertahanan dan keamanan, maka tidak bisa melepaskan diri dari alur sejarah yang ada di bumi Nusantara ini. Menurut para ahli arkeologis, bahwa sejak jaman prasejarah penduduk Nusantara ini adalah pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas, hal ini sehubungan bahwa kepulauan Nusantara adalah tergolongan Negara perairan.

Meski demikian lautan bukanlah sebagai penghalang untuk menjalin komunikasi dengan penduduk dipedalaman pulau, sehingga perjalanan air merupakan komoditas transportasi yang utama. Hampir seluruh sejarah kehidupan di bumi Nusantara ini berawal dari laut ke laut, oleh sebab itu kebudayaan dipesisir cenderung lebih maju daripada yang ada dipedalaman. Interaksi sosial dengan antar etnis, budaya, bahasa, agama banyak didominasi oleh penduduk pesisir.

Dalam penelitian prasejarah, benda-benda peninggalan yang mengandung ciri yang menunjukkan hubungan interinsulair antara kepulauan Nusantara dan Asia tenggara, adalah berupa artefak yang berbentuk Nekara dari perunggu, dan ini dipandang sebagai sasaran penting dalam penelitian purbakala yang dilakukan oleh para ahli arkeologi. Yang sangat terkenal dalam hal ini adalah Dr. F. Heger, dalam klasifikasinya bahwa nekara dibedakan dari tipe local dan tipe Asia Tenggara.

Meskipun ada anggapan bahwa nekara ini dibuat di Nusantara karena memang terbukti adanya peninggalan berupa cetakan – cetakan pengecoran logam pada jaman prasejarah, tetapi mungkin juga bahwa Nekara itu memang dibuat dan dibawa dari daratan Asia Tenggara, seperti Nekara di Sangeang (Poesponegoro, et al., 1984 ; 3). Dalam hal Nusantara itu diketemukan oleh orang-orang dari daratan Asia Tenggara khususnya para pedagang dari India, beberapa ahli berpendapat bahwa Kepulauan Nusantara telah berkembang kehidupan masyarakatnya, sehingga memungkin orang-orang yang bermigrasi itu, akan memperoleh manfaat yang besar dalam menjalin hubungan tersebut, JC. Van Leur dan O.W. Wolters berpendapat bahwa hubungan antara India dan Indonesia lebih dahulu jika dibandingkan dengan hubungan Indonesia – Cina.

Walau demikian, meski dikatakan bahwa hubungan India dengan Indonesia itu dianggap lebih awal, namun terdapat kesulitan untuk menentukan ketepatan waktunya. Hal ini mengingat bahwa sumber-sumber informasi yang dapat memberikan kejelasan secara tertulis yang berasal dari Nusantara, menurut penelitian para ahli ternyata tidak ada. Sedangkan tulisan yang umum digunakan di Nusantara ini justru berasal dari tulisan (aksara) India. Namun demikian sumber-sumber di India tidak pernah membuat catatan- catatan resmi mengenai suatu kejadian penting dalam suatu kurun waktu tertentu.

Sumber yang dapat digunakan sebagai acuan dari India hanyalah sastra, yang tentu tidak bertujuan untuk memberikan fakta-fakta tentang keadaan awal terjadinya hubungan bilateral antara India dan Indonesia. Para peneliti menyebut adanya kitab ‘ Jataka’, yang memuat kisah sang Budha dan didalamnya menyebut tentang suvarnnabhumi sebagai sebuah negeri yang untuk mencapainya, memerlukan perjalanan penuh bahaya.

Tetapi Suvarnabhumi tidak identik dengan Nusantara, karena S. Levi dalam Ptolemee le Nidessa et la Brhakatha, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sebuah negeri di sebelah timur teluk Benggala. Kecuali itu ada kitab lain yaitu Ramayana, dalam kitab tersebut menyebut nama Yawadwipa, yang dihiasi oleh tujuh Kerajaan. Pulau ini adalah pulau emas perak. Juga menyebut nama Suwarnadwipa, yang kemudian dijadikan nama pulau Sumatera, salah satu sastra India yang oleh para ahli dianggap dapat dipercaya adalah kitab Mahaniddesa, Levi berpendapat bahwa keterangan geografis mengenai beberapa tempat di timur jauh yag terdapat didalamnya mencerminkan perbendharaan pengetahuan di India mengenai tempat-tempat itu pada abad III Masehi. Dalam usahanya untuk mengetahui awal hubungan India dengan daerah-daerah disebelah timurnya, para peneliti telah mengkaji sumber-sumber barat jaman kuna (Levi, 1925 ; 29).

Sebuah kitab yang dijadikan sumber adalah Periplous tès Erythras thalassès. Periplous adalah kitab pedoman untuk berlayar di lautan (Erythrasa) yaitu Samudera Hindia. Diperkirakan kitab itu ditulis pada awal tarikh Masehi (Wheatley, 1961: 129). Dari beberapa sumber yang berusaha untuk menemukan hubungan awal India dengan Nusantara baik sumber dari India maupun sumber Barat, belum dapat mengungkapkan sepenuhnya awal hubungan India-Nusantara. Tetapi dapat diambil kesimpulan di sekitar abad II Masehi, dan hubungan itu relative sudah intensif.

Ketika dimunculkan pertanyaan; apa alasan dagang orang India ke Nusantara? Dijawab oleh Coedès memberikan penjelasannya, bahwa pada awal tarikh Masehi India mengalami defisit yang luar biasa, mereka kehilangan sumber emas yang utama yang didatangkan dari Siberia melalui Baktria (Yunani). Tetapi ada berbagai gerakan yang memutuskan jalur perdagangan tersebut. Sebagai gantinya India mengimpor mata uang emas dalam jumlah besar dari Romawi. Usaha inipun kemudian dihentikan oleh kaisar Romawi Vespasianus (69-79 M) karena, mengalirnya mata uang emas yang dalam jumlah besar keluar negeri akan membahayakan ekonomi Negara. Kemungkinan dengan alasan inilah India melakukan terobosan kearah timur yang telah dikenal sejak dahoeloe sebagai penghasil emas dan perak. Jika benar teori Coedès maka hal itu akan menegaskan bahwa tentang alasan India ke Nusantara hanyalah semata-mata soal perdagangan saja, bukan alasan politik sebagaimana yang diajukan oleh para peneliti abad XX (Coedes, 1968 ; 20).

Perdagangan Asia Tenggara dengan India adalah perdagangan Internasional dalam pasaran internasional pula, sehingga misi perdagangan ke Nusantara pada saat itu tentu bukan sekedar perdagangan kecil-kecilan.

Van Leur menyebut perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang India itu misalnya; logam mulia, jenis tenunan dan rempah-rempah, juga kayu gaharu dan cendana. Kehadiran orang India di Asia Tenggara cukup mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia perdagangan di Nusantara. Sedangkan unsur-unsur budaya India yang dapat mempengaruhi dalam budaya Indonesia, peranan ini lebih dilakukan oleh para Brahmana. Yang kedatangannya atas undangan dari para penguasa Indonesia (Poesponegoro, et al., 1984; 24).

Berkembangnya pengaruh budaya India di Nusantara
Hubungan dagang antara India dan Indonesia itu telah berimbas pada masuknya pengaruh budaya India ke dalam budaya Nusantara. Tentang bagaimana sesungguhnya proses itu berlangsung, para ahli membagi dua hal pokok, yaitu ;

1) Bertolak dari anggapan bahwa bangsa Indonesia berlaku pasif dalam proses tersebut

2) memberikan peranan aktif kepada bangsa Indonesia.

Pendapat pertama menganggap telah terjadi kolonisasi oleh orang-orang India. Koloni – koloni orang India ini menjadi pusat penyebaran budaya India. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam kolonisasi tersebut terjadi pula penaklukan, sehingga muncullah gambaran bahwa orang-orang India sebagai golongan yang menguasai Nusantara. Gambaran itu menganggap bahwa proses masuknya budaya India dipegang oleh golongan Prajurit atau kasta Ksatria. Dalam hal ini Bosch menyebut sebagai hipotesa ksatria.

N.J. Krom berpendapat bahwa golongan ksatria tidak sebesar golongan pedagang yang datang ke Indonesia, dan kemudian menetap di Nusantara dan memegang peranan dalam penyebaran pengaruh budaya melalui hubungan mereka dengan penguasa-penguasa di kepulauan Nusantara. Kemungkinan pula terjadi perkawinan dengan wanita Nusantara (Poerbatjaraka, 1952 ;viii), perkawinan ini menjadi pengaruh penting dalam penyebaran budaya. Karena pedagang adalah termasuk kasta vaisya, maka Bosch menyebutnya sebagai hipotesa Vaisya.

Hipotesa Krom berkesimpulan bahwa peranan budaya Indonesia dalam proses pembentukan budaya Indonesia-Hindhu sangat penting. Hal itu tidak mungkin dapat terjadi jika bangsa Indonesia hidup dibawah tekanan seperti yang digambarkan dalam hipotesa ksatria. Kedua pendapat Bosch maupun Krom kemudian dibantah oleh Van Leur, bahwa; sebuah kolonisasi melibatkan sebuah kemenangan dalam penaklukan oleh golongan ksatria. Catatan kemenangan atas penaklukan di Nusantara tidak pernah ada dalam catatan resmi di India. Demikian pula di Indonesia tidak didapati prasasti atau tanda peringatan apapun. Kecuali hal itu, setiap kolonisasi selalu diikuti dengan pemindahan segala unsur masyarakat dari tanah asal seperti; sistem kasta, seni, kerajinan, bentuk rumah, istiadat dsbnya.

Pada kenyataanya bahwa di Nusantara tak pernah ada budaya yang sama dengan di India. Kalaupun dianggap bahwa orang-orang India menetap di Nusantara tidak terjadi penyebaran secara perseorangan, mereka selalu menempati suatu kawasan tertentu, seperti halnya perkampuan Cina, perkampungan Arab, perkampungan India. Di beberapa tempat di Indonesia masih dijumpai adanya perkampungan Keling, yaitu suatu tempat dimana pada masa itu orang India bertempat tinggal.

Kedudukan mereka seperti layaknya rakyat biasa , mereka hanya melakukan kegiatan perdagangan saja. Pengaruh budaya yang dibawa oleh para pedagang ini oleh Van Leur dianggap tidak memiliki peranan yang dominan dalam mempengaruhi penguasa di Nusantara. Tetapi ia menambahkan bahwa peranan penyebaran budaya India dilakukan oleh tingkat Brahmana, dan mereka datang atas undangan para penguasa di Indonesia pada saat itu. Bukti arkeologis menunjukan bahwa pada abad V Masehi di Asia Tenggara maupun di semenanjung Melayu dari Indonesia bagian barat telah terdapat pusat-pusat kekuasaan Politik dengan taraf peng-India-an yang sama.

Kesimpulan bahwa dinegeri kepulauan ini telah berdiam jutaan tahun yang lalu masyarakat yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dengan kemampuan mereka menciptakan bahasa dan tulisan yang berlaku (dipahami) oleh masyarakat dibelahan dunia lain. Dengan melihat kemampuan mereka dalam menjelajah maka hanya dapat dilakukan oleh suatu masyarakat yang telah terorganisir (berpemerintahan) dengan baik dengan sistem manajemen modern yang dapat melakukan kendali atas semua aktivitas masyarakatnya. Lalu siapa mereka yang berkuasa memerintah jutaan tahun yang lalu dinegeri ini, apakah negeri ini lalu dikatakan tak bertuan sehingga anak-cucunya membuat nama negeri yang lain terlepas dari sejarah penguasa pendahulunya. Dari bahasa kita dapatkan bahasa yang disebut Aneksasi.


Sumber: Nusantara Historical Discovery
Dokumen - Komunitas Cahaya

Kajian