Select Menu

clean-5

Kabar Komunitas Cahaya

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Jimat Kalimasada Melawan Kapitalisme Global

Oleh: Anis Sholeh Ba’asyin *

KALIMASADA, dalam tradisi dikenal sebagai bentuk pengucapan lain untuk kalimah syahadah, sejajar dengan pengucapan sekaten untuk syahadatain. Tapi, berbeda dengan pembentukan istilah sekaten, istilah kalimasada konon punya akar yang lebih panjang, karena istilah ini sudah ada sebelum Islam.


Istilah Kalimasada konon berasal dari kata Kalimahosaddha. Istilah ini ditemukan dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada tahun 1157 atau abad ke-12, pada masa pemerintahan Maharaja Jayabhaya di Kerajaan Kadiri. Istilah tersebut adalah bentukan dari Kali-Maha-Usaddha, yang artinya "obat mujarab Dewi Kali".

Kali adalah salah satu dewi yang populer dalam agama Hindu, dikenal juga sebagai Dewi Durga dan selalu diasosiasikan sebagai penyebar penyakit, kematian dan kerusakan.

Kecuali dihubungkan dengan Dewi Kali, salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan versi lain asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Resi Satrukem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Satrukem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Satrukem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wyasa atau Abyasa. Ketika kelima cucu Abyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.

Dalam Kakawin Bharatayuddha dikisahkan perang besar antara keluarga Pandawa melawan Kurawa. Pada hari ke-18 panglima pihak Kurawa yang bernama Salya bertempur melawan Yudhistira. Salya yang bersenjata pusaka Aji Candrabirawa, dihadapi oleh Yudhistira yang melemparkan kitab pusakanya yang bernama Kalimahosaddha ke arah Salya. Kitab tersebut berubah menjadi tombak yang menembus dada Salya.

***

Kalimasada selalu dihubungkan dengan jimat atau jamus, sehingga berbunyi Jimat Kalimasada atau Jamus Kalimasada. Jimat adalah serapan dari bahasa Arab ‘azima, kurang lebih bermakna sesuatu yang bisa memberi kekuatan, sesuatu yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya dari bala dan penyakit. Sementara Jamus bermakna serat atau surat.

Dalam cerita pewayangan versi Jawa, Prabu Yudhistira mengamanatkan Jimat Kalimasada tersebut kepada Sunan Kalijaga. Dikisahkan bahwa Prabu Yudhistira baru bisa meninggal setelah diwejang oleh Sunan Kalijaga tentang makna sejati Jimat Kalimasada.

Cerita pewayangan versi ini tampaknya tidak disikapi sekedar sebagai mitos, tapi kemudian benar-benar dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi banyak pihak yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah satunya muncul dalam Babad Diponegoro. Dalam Babad yang konon ditulis oleh Pangeran Diponegoro ini, cerita tersebut dipakai sebagai salah satu argumen untuk melawan Belanda. Atas dasar cerita tersebut, Pangeran Diponegoro menegaskan bahwa Jawa adalah milik bangsa Jawa yang keturunan Pandawa dan berpusaka Kalimasada, oleh karena itu Belanda sama sekali tak berhak atasnya.

Nah, kalau dalam cerita pewayangan Jimat Kalimasada pernah dipakai oleh Prabu Yudhistira untuk mengalahkan keangkara-murkaan Salya beserta raksasa-raksasa ciptaan Aji Candrabirawa-nya; apakah saat ini Jimat Kalimasada sekali lagi dapat kita gunakan untuk melumpuhkan raksasa-raksasa hasil perkawinan negara adi daya dan kapitalisme global yang sedang mencengkeram kita? Atau, jangan-jangan Jimat Kalimasada itu malah sudah tak kita rawat lagi?

Anis Sholeh Ba’asyin - Pengasuh Rumah Adab Indonesia Mulia


Dokumen - Komunitas Cahaya

Kapitalis, Tuhan dan Nabi Nuh As

Oleh: Lukni Maulana *

DI
musim penghujan, peristiwa banjir menjadi pandangan setiap hari. Baik di media elektronik maupun cetak pemberitaan banjir selalu mewarnai. Apa lagi di daerahku kecamatan Genuk kota Semarang, jalanan dipenuhi air, jalan-jalan pada rusak dan berlubang. Banjir menjadi langganan dan bahkan di ibu kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan menjadi berita yang patut disiarkan secara langsung. Belum lagi daerah lain yang diterjang banjir, tanah longsor, jempatan gantung terputus dan harus rela tinggal ditempat pengungsian serta nyawa jadi taruhan.

Tapi aku masih beruntung karena selama ini tempat yang menjadi rumah tinggal di kampung belum mengalami kebanjiran, tidak tahu tahun-tahun depan seiring maraknya pembangunan perumahan dan aliran air yang tidak tau dimana ia akan bermuara.

Pertanyaan aneh muncul di media, “Banjir disebakan oleh Tuhan dan curah hujan yang tinggi?” Hal ini mengingatkan aku pada kisah Banjir dan Perahu Nabi Nuh As.

Seorang filosof eksistensilis J.P Sartre (1905-1980) pernah berkata, “Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. Namun pernyataan Sartre ini menuai kritik dari Teolog Yahudi yakni Martin Buber (1878-1965) yang mengatakan, “Tuhan tidak diam tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa.”

Apakah Tuhan patut disalahkan oleh sebab banjir dan beberapa bencana yang terjadi sekarang ini ataukah seperti kata Martin Buber Bahwa kita terlalu banyak bicara dan sagat sedikit bicara. Sehingga Tuhan tidak bersama manusia, sesuai kata J.P Sartre. Ah...dasar manusia, tidak tahu siapa dirinya.

Seharusnya kita sadar diri bahwa kita sebagai manusia merupakan mahluk mutidimensi, dalam pendekatan ekologis, hakikatnya manusa merupakan makhluk lingkungan. Dalam artian bahwa dalam melaksanakan perannya sebagai khalifah di muka bumi manusia memiliki kecenderungan untuk selalu mengerti akan lingkungannya.

Bahkan agama Islam mengajarkan bentuk ideal manusia dan peran lingkungan, secara idiologis masyarakat muslim pandai dalam merekayasa lingkungan namun secara faktual berperilaku ekologis masih sangat rendah. Sebab memperlakukan lingkungan sebagai aset potensial, alam lingkungan menjadi lahan eksploitasi dan kepemilikan para kapitalis.

Singkatnya kita belum memiliki rancangan ekologis yang representatif bermuatan spiritualitas lingkungan, meski tuntutan berperikehidupan berwawasan lingkungan ataupun kesadaran lingkungan dalam kampanye sangat kuat. Maka krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian bagi setiap tradisi dan komunitas keagamaan, sekaligus fokus dalam upaya memahami hakekat spiritualitas lingkungan dan kedirian kita yang memiliki peran untuk memakmuran bumi.

Kapitalis Vs Kaum Nabi Nuh As

Masihkah kita mengingat kisah Nabi Nuh As, tak pantas kiranya kita mensalahkan Tuhan dan curah hujan tapi diri kitalah yang bersalah. Allah sebagai Tuhan yang menjadi sutradara memerintahkan kita untuk mematuhi segala apa yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang.

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’araaf/7: 96)

Al Qur’an juga menerangkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi ini seperti dalam surat al A’raaf yakni:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al A’raaf/7 : 56).

Pada dasarnya kerusakan sumber daya alam dan lingkungan itu disebabkan oleh kelakuan manusia sendiri. Akibatnya sumber daya alam dan pada khususnya energi menjadi barang langka akibat tingkat interaksi yang berlebihan (over explotation) dan kurang memperlihatkan aspek berkelanjutan.

Siapa itu Nabi Nuh As?, nama Nuh bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Syria yang artinya “bersyukur” atau “selalu berterima kasih”. Dinamakan Nuh karena seringnya dia menangis, nama aslinya adalah Abdul Ghafar (Hamba dari Yang Maha Pengampun). Geneologi Nuh As adalah nabi ketiga sesudah Adam, dan Idris. Ia merupakan keturunan kesembilan dari Adam. Ayahnya adalah Lamik (Lamaka) bin Metusyalih atau Mutawasylah (Matu Salij) bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Antara Adam dan Nuh ada rentang 10 generasi dan selama periode kurang lebih 1642 tahun. Sedangkan menurut kisah dari Taurat nama asli Nuh adalah Nahm yang kemudian menjadi nama sebuah kota, kuburan Nuh berada di desa al Waqsyah yang dibangun didaerah Nahm. Nuh As mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Nabi Allah dan Abdussyakur yang artinya “hamba (Allah) yang banyak bersyukur”.

Ia hidup sekitar (3993-3043 SM) seorang pejuang anti kapitalis atau rasul yang diceritakan dalam Kitab Taurat, Al-Kitab dan Al-Qur’an. Nuh As diangkat menjadi Nabi sekitar tahun 3650 SM, diperkirakan tinggal di wilayah selatan Irak Modern dan bahkan di negeriku Indonesia menggap Nabi Nuh As berasal dari Jawa Indonesia, sebab kayu-kayu besar dan banyaknya gunung dan kemakmuran berada di wilayah Nusantara. Menurut Al-Qur'an, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kanʻān, Sem, Ham, dan Yafet. Namun Alkitab hanya mencatat, ia memiliki 3 anak laki-laki Sem, Ham, dan Yafet. Ia mempunyai istri bernama Wafilah, sedangkan beberapa sumber mengatakan istri Nuh adalah Namaha binti Tzila atau Amzurah binti Barakil.

Kisah Nabi Nuh As dan Bahteranya sebenarnya merupakan perlawanan kaum tertindas dengan kaum kapitalis. Nabi Nuh merupakan Nabi dan Rasul pertama yang diutus pada suatu kaum yakni kaum Bani Rasib. Dimana saat itu Nabi Nuh hidup pada masa Raja Dhahhak atau Biyorasih yang sebelumnya membunuh Raja Jim (Jamsyid), lalu kerajaan mengalami fase suksesi, kepemimpinan digantikan seorang laki-laki bernama Darmasyil. Darmasyil ini menjadi sosok penjajah, ia merupakan raja yang kuat perkasa dan menguasai kekayaan alam, ia menjadi super power penguasa atau kaum kapitalis yang menguasai kekayaan.

Dalam kelas sosial Kaum Nabi Nuh As terbagi menjadi 3 (tiga) yakni kelas para raja, kelas bangsawan atau punggawa kerajaan dan kelas rakyat. Kaum kapitalis menjadi kelasnya para raja dan bangsawan yang berperan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka kaum kapitalis menipu rakyat dengan kekuasaan palsu dan menjadikan kelas rakyat sebagai warga yang wajib mentaati dan tidak boleh menentang kaum kapitalis.

Sedangkan Kaum Nabi Nuh As mewakili kelas rakyat atau warga yang mengalami ketertindasan. Mereka berada pada posisi yang sama sekali tidak memiliki the power of bergaining position. Kaum Nabi Nuh adalah kelas tertindas dan selalu ditindas oleh keinginan dan kepentingan para raja dan kalangan bangsawan.

Lalu Nuh As diutus Allah menjadi Rasul yang membawa hakikat ketuhanan dan hakikat kebangkitan, sehingga akar-akar idiologisasipun terdengar. Akan tetapi pilar idiologi yang dibawa Nabi Nuh As mengalami perlawanan dari kaum kapitalis sehingga terpecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama diwakili Nabi Nuh As  dan orang-orang lemah yakni para fakir miskin. Sedangkan kelompok kedua diwakili oleh orang-orang kaya dan para penguasa yang melancarkan serangan perlawanan terhadap kaum Nabi Nuh As.

Musuh Nabi Nuh As adalah para kaum kapitalis, mereka mendapatkan sebutan “Al-Mala’” karena mereka berkata kepada Nabi Nuh As, “Wahai Nabi Nuh As engkau adalah manusia biasa.” Oleh sebab tidak memiliki bergaining position. Namun demikian Nabi Nuh As beserta kaumnya terus saja berjuang melakukan perlawanan. Hingga para kapitalis mulai bosan;
 
“mereka berkata "Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan Kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, Maka datangkanlah kepada Kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu Termasuk orang-orang yang benar". Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (QS. Huud/11: 32-32)

Perlawanan terhadap Kaum kapitalis mengalami puncaknya hingga Kuam Nabi Nuh As harus Hijrah dengan membuat bahtera. Inilah banjir lokal untuk kaum nabi Nuh As, bukan banjir global. Tapi ini adalah perlawanan antara kaum kapitalis dengan kaum yang mengalami ketertindasan.
  
“dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Huud/11: 37)

Marilah kita intropeksi diri, apakah bencana alam yang terjadi ini merupakan azab dari Allah ataukah ini menjadi peringatan untuk kita, bahwa diri kitalah yang bersalah dan diri ini terlalu jauh berkomunikasi dengan Tuhan.

Komunitas Cahaya – 22/01/14



 
* Lukni Maulana – Pengasuh Komunitas Cahaya

Ideologi di Balik Rokokku

Oleh: Mohamad Sobary *

SEORANG yang hingga umur 58 th tak pernah merokok, dan tiba-tiba merokok, jelas bukan karena salah pergaulan. Selama ini tak pernah ada yang salah dalam pergaulan saya. Para perokok berat di antara kenalan, teman dan sahabat, maupun anak buah di kantor, tetap menjadi perokok berat dan saya tak terpengaruh, kecuali merasa sumpek dan panas.

Merokok tidak sehat. Merokok mempengaruhi kesehatan lingkungan. Merokok mencabik-cabik ekonomi perokok dari keluarga miskin. Merokok menyebabkan kanker, impotensi, merusak janin, sudah saya baca dengan sebaik-baiknya dan pesan terselubung agar orang tak merokok, saya taati. Di sana dengan sendirinya mungkin ada kebenaran. Jadi saya tak pernah berusaha untuk merasa tak setuju dengan anggapan-anggapan itu.

Tapi sesudah membaca tulisan Wanda Hamilton bahwa data yang diklaim sebagai kebenaran oleh para pejuang anti rokok dianggap tidak sahih, saya mulai terlibat dalam pemikiran tentang benar-salah di dalamnya. Dan ketika disebutkan bahwa yang terjadi di tengah gerakan anti rokok itu sebenarnya perang bisnis yang tidak adil, saya memperkukuh pemikiran mengenai ketidakadilan ini sebagai bagian dari kekuatan sosial-ekonomi yang patut diperhatikan lebih seksama. Sikap tidak adil tak bisa dibiarkan begitu saja.

Kemudian ketika Bloomberg Inisiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya, juga, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bagi saya, bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.

---------------
Banyak pihak dipengaruhi dengan duit. Para pejabat di Departemen, tingkat menteri, di bawah menteri, gubernur, bawahannya, bupati atau wali kota dan bawahan mereka, semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan duit yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak. Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.
----------------

Tapi apa artinya hati nurani di jaman edan ini dibanding duit melimpah? Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi duit. Dan sayapun makin marah. Kemarahan itu makin jelas dan makin jelas bentukideologinya. Dengan begitu apa yang pribadi, bisa dikesampingkan.

Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek? Kretek kita sangat khas. Dan di negeri orang bule, kretek kita mengantam telak perdagangan rokok putih mereka. Kretek unggul. Dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.

Djie Sam Su Sampoerna sudah dikuasai Phlilip Morris. Bentuk sudah dikuasai BAT, yang sejak puluhan tahun lalu hendak mencaplok kretek kita. Pada mulanya saya bergabung dengan asosiasi Petani Tembakau (APTI) Jawa Tengah, sebagai penasihat para pengrusnya. Saya wira wiri ke daerah tiga gunung: Sumbing, Sindoro, Perahu. Sambil melakukan penelitian, saya juga melakukan advokasi, membela para petani tadi. (red-Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak.)

Tapi persoalan berkembang sangat cepat. DPR menyusun RUU. Pemerintah menyusun RPP. Intinya hendak membunuh kretek. Dan petani dipaksa melakukan alih fungsi lahan, untuk bercocok tanam lain selain tembakau. Ini sudah merupakan kekerasan dan pelanggaran hak hidup yang luar biasa, karena pengaruh para kapitalis asing makin besar.

Bagi saya, mereka bukan lagi kapitalis, melainkan kapitalis yang serakah sekaligus kolonialis dan imperialis. Kapitalis silahkan saja berebut lahan bisnis dan melakukan perang bisnis secara fair, terbuka, dengan semangat kompetisi bebas yang dibangggakan Amerika Serikat. Tapi bukan kompetisi bukan perang dagang yang terjadi. Semangat kaum penjajah seperti di zaman VOC dulu, lahir kembali dalam bentuk baru.

Dengan memperalat—atau mungkin kerjasama—dengan pejabat, aktivis, kaum profesional, ilmuwan dan kaum rohaniwan yang bekerja di lembaga keagamaan—langkah mereka menjadi makin kukuh. Dan saya pun makin gigih melakukan perlawanan dengan tulisan.

Sebagai warga negara Indonesia, yang hidup di sini, makin dan tenteram di sini, relakah saya membiarkan orang asing berjumpalitan membunuh bisinis bangsa kita sendiri? Saya tidak rela. Melihat kaum profesional, aktivis, ilmuwan, rohaniwan, teman-teman saya dijerumuskan ke jurang kehinaan macam itu, haruskah saya diam? Saya tidak rela.

Tapi apakah dengan begitu saya tak sadar telah membela kapitalis? Saya membela kapitalis Indonesia yang membayar pajak untuk negeri kita, yang memberi lapangan kerja bagi bangsa kita, yang membayar banyak pungutan, dan hitunglah cukai yang enam puluh lima trilliun itu, semua untuk Indonesia. Kalau saya membela mereka, dan melawan kapitalis yang sekaligus kolonialis dan imperialis, apa yang salah?

Saya membela petani. Saya membela pabrik, dan semuanya demi melawan kolonialis dan imperialias yang kejam, dan menghancurkan kehidupan bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin. Efek kolonialisasi dalam jiwa bangsa kita belum sembuh. Kita masih merasa minder pada bangsa Barat. Kita masih menganggap mereka suri teladan mulia.

Tak ada kemuliaan bagi penjajah. Negeri kita hancur karena mereka. Kita diadu domba karena duit. Kita bertengkar karena alasan palsu. Keuntungan ada di kaum kolonialis. Dan saya waspada. Ideologi melawan kaum kolonialis dan imperialis menggumpal dalam diri saya.

Lalu muncullah sebuah penelitian ilmiah Prof. Sutiman, ahli biologi, dari Universitas Brawijaya, Malang, yang mengembangkan penelitian bertahun-tahun sebelumnya, yang dilakukan Dr. Gretha Zahar. Ibu Gretha, ahli fisika yang gigih menolong para penderita kanker yang tak sembuh di rumah sakit. Di tangan beliau mereka sembuh. Juga isteri Prof. Sutiman yang menderita kanker payudara.

Maka, sejak itu Prof. Sutiman, ahli biologi itu lalu melakukan penelitian laboratorium dengan temuan mengejutkan: bahwa kretek itu sehat. Ibu Gretha memproduksi kretek sehat itu buat penyembuhan para pasien. Kretek itu disebut Divine Kretek. Isinya protein, asam amino dan banyak zat bagus lainnya. Asam amino mengganti sel-sel tubuh yang mati. Membuat kita, yang sudah degeneratif, menjadi regeneratif lagi.

Dan saya pun merokok pada usia 58 tahun lebih beberapa bulan. Saya merokok karena ideologi yang saya sebutkan di atas.

*Sumber : Oase.Kompas.Com




* Mohamad Sobary - Budayawan

Newton dan Bah di Negeri Bilqis



Oleh : KH. Ubaidillah Shodaqoh *

 “ lang zal ze leven... lang zal ze leven...  lang zal ze leven in de gloria.... in de gloria.... in de gloria..... “

Lagu gembira yang diakhiri dengan tepuk tangan riuh dalam naungan aula angker warisan Belanda itu terekam kuat dalam memoriku. Setidaknya satu tahun sekali selama tiga tahun di SMA, lagu itu dinyanyikan bersama pada acara ulang tahun SMA. Uniknya dipimpin oleh sosok yang sudah sangat uzur, guru warisan didikan Belanda yang bernama meester Susilo.

Kalimat “haqqul yaqin, ainul yaqin“ ringan sekali meluncur dari meester guru susilo ketika menerangkan pelajaran fisika.  “Hukum  Newton ketiga  mengungkapkan bahwa, aksi sama dengan reaksi. Ini sudah haqqul yaqin.“  Demikian bahasa beliau ketika menerangkan teori fisika, dan kerapkali melirik pada bangkuku ketika berkata haqqul yaqin karena beliau tahu saya sebagai Rohis yang sering mengurusi kegiatan keagamaan (bukan doktrinasi fundamentalis lo..).

“Aksi sama dengan reaksi, engkau berubah Aku (Allah) merubah, engkau sembrono Aku kasih celaka, engkau mereklamasi pantai Aku kasih ombak yang liar, engkau tebang pohon sembarangan dan engkau kepras bukit  Aku kasih banjir dan longsor.” Begitulah maksud wahyu apabila dikontekkan dengan situasi bencana yang sering terjadi saat ini.
  
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang telah ada pada suatu kaum, ( tidak akan mengambil kenikmatan yang telah diberikan pada suatu kaum), sehingga kaum tersebut merubah apa yang ada pada diri mereka, (dari kebiasaan hidup yang baik menjadi kemaksiatan, kerakusan, merusak alam) . Dan ketika Allah menghendaki keburukan (siksa) pada suatu kaum maka tidak ada yang mampu menolaknya kecuali Allah swt”. (QS . Ar-Ra’d 11, Jalalain)

Dalil tersebut sering digunakan terbalik oleh para penda’i dan para motifator tanpa melihat kontek ayatnya. Mereka memahami bahwa siapa yang tidak merubah dirinya dengan bekerja keras maka akan tetap dalam keadaan miskin, fakir dlsb..

Penggalan ayat yang tidak utuh atau memahami ayat tanpa siaq (rangkaian kalimat dan ayat sebelum dan sesudahnya) dan asbab al-nuzul sering membuat kesalahpahaman yang mendasar. Barangkali dengan dalih mafhum mukholafah (pemahaman terbalik) atau aks al-mustawa (dalam istilah mantiqnya)  kita dapat memahami ayat tersebut sebagaimana maksud para motivator, namun pemahaman selanjutnya akan sangat rancu dan jauh dari maksud ayat tsb yaitu sebagai tanbih (peringatan) bagi masyarakat dan penggede-penggede yang berbuat kemaksiatan, kerusakan.

Nyiur hijau kini tak lagi melambai-lambai, tapi mobat-mabit diterpa badai yang dahsyat. Padipun sekarang enggan mengembang dan tak sampai menguning karena terendam banjir yang menerjang. Tiada lagi burung yang bernyanyi gembira, tapi menangis tak ada lagi ranting yang dihinggapi dan teracuni pestisida pada buah yang dimakannya. Tanah airku, tumpah darahku kini telah dieksploitasi dengan rakus. Telah dijual untuk membeli tahta, harta , wanita dan gaya hidup.

Maklum apabila kita khawatir tidak lagi dido’akan dan ditahlilkan anak cucu kita manakala telah berkalang tanah. Bukan karena provokasi bodoh orang yang mengharamkannya, tapi karena mereka dendam dengan kita sebab kita telah merusak dan menghabiskan harta yang semestinya menjadi warisan untuk mereka. Nauzubillah.

Pukolon.......pukolon.
Bumi gonjang-ganjing kelap-kelap katon...OOOOO
Apa gerangan yang kita makan, aspal kah, batu kah, pasir kah, atau bahkan daging-daging simiskin yang telah kita korupsi bagiannya. Atau bahkan engkau minum darah dan keringat para buruh yang engkau upah tanpa semestinya. Hingga keluar kelakuan rakus yang tak terkendalikan. Kita cetak berjuta-juta mushaf al-Qur’an tapi kitapun sombong meski mata kita rabun, membaca tanpa kacamata. Kacamata tafsir para ulama pujangga sufi terdahulu.

Apakah kisah negeri Saba’ telah dihapus dalam mushafmu?
Sudah hilangkah ayat (Saba’: 15-17);

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ,فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Dahulu kala, negeri saba’ memiliki danau, yang dibangun oleh dua belas Nabi. Sungguh makmurnya negeri ini, Seorang wanita cukup mengadahkan keranjangnya di bawah pohon yang berbuah. Tanpa harus memetik buahnyapun memenuhi keranjang karena sangat lebatnya. Dua kebun yang subur dialiri dari danau yang pemurah itu. Tanaman apapun dari gandum sampai buah-buahan tumbuh subur dengan panen yang melimpah. Taman-taman dan bunga yang mekar semerbak. Tak kurang suatu apapun ttg rizki dan makanan kaumnya. Begitu ilustrasi dalam tafsir. Sehingga dijuluki Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur dalam al-Qur’an. Danau tersebut adalah danau Arim ( Sad Ma’rib, tiga marhalah dari Shon’a).

Bahkan, nyamuk, kutu dan lalatpun tidak hidup di Saba’ karena kebersihan dan cuaca yang sangat bagus. Namun karena mereka melanggar aturan utusan Allah Swt dengan berbuat maksiat dan kerusakan, merubah sesembahannya menjadi matahari (sebagaimana cerita burung Hud-hud nabi Sulaiman As) maka Allah Swt mengutus Jaradz (semacam kutu atau belalang) untuk melobangi bendungan tersebut. Akhirnya ambrollah bendungan itu dan memporakporandakan negeri nenek moyang ratu nan cantik dan anggun Bilqis taklukan Nabi Sulaiman As. Tinggallah pohon berduri dan pahit yang dapat tumbuh di negeri itu.

Woooh, pukuluon.... pukulon.  Aku ingat paparan Dr. Nilwan, ahli dan peneliti lingkungan dari UNDIP dalam kesempatan bahtsu al-masa’il ( Pondok Pesantren Dar al-Falakh asuhan KH. Kholil Jepara, 4 R. Awal 1435). Dia katakan bahwa, “Bukit, hutan dan gunung  dengan tanamannya adalah waduk yang paling aman untuk menyimpan persediaan air. Jangan bangun waduk baru, sebab apabila engkau tidak bersyukur dan uang perawatan engkau korup, maka bom waktulah yang bakal meledak sewaktu waktu.”

Kembalilah dan kembalilah.

Bugen,
16 R.Awal 1435.


* KH. Ubaidillah Shodaqoh – Ketua Syuriah PBNU Jawa Tengah dan Pengasuh Pondok Pesatren Al-Itqon Bugen Semarang

Kajian