Select Menu

clean-5

Kabar Komunitas Cahaya

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Jimat Kalimasada Melawan Kapitalisme Global

Oleh: Anis Sholeh Ba’asyin *

KALIMASADA, dalam tradisi dikenal sebagai bentuk pengucapan lain untuk kalimah syahadah, sejajar dengan pengucapan sekaten untuk syahadatain. Tapi, berbeda dengan pembentukan istilah sekaten, istilah kalimasada konon punya akar yang lebih panjang, karena istilah ini sudah ada sebelum Islam.


Istilah Kalimasada konon berasal dari kata Kalimahosaddha. Istilah ini ditemukan dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada tahun 1157 atau abad ke-12, pada masa pemerintahan Maharaja Jayabhaya di Kerajaan Kadiri. Istilah tersebut adalah bentukan dari Kali-Maha-Usaddha, yang artinya "obat mujarab Dewi Kali".

Kali adalah salah satu dewi yang populer dalam agama Hindu, dikenal juga sebagai Dewi Durga dan selalu diasosiasikan sebagai penyebar penyakit, kematian dan kerusakan.

Kecuali dihubungkan dengan Dewi Kali, salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan versi lain asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Resi Satrukem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Satrukem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Satrukem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wyasa atau Abyasa. Ketika kelima cucu Abyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.

Dalam Kakawin Bharatayuddha dikisahkan perang besar antara keluarga Pandawa melawan Kurawa. Pada hari ke-18 panglima pihak Kurawa yang bernama Salya bertempur melawan Yudhistira. Salya yang bersenjata pusaka Aji Candrabirawa, dihadapi oleh Yudhistira yang melemparkan kitab pusakanya yang bernama Kalimahosaddha ke arah Salya. Kitab tersebut berubah menjadi tombak yang menembus dada Salya.

***

Kalimasada selalu dihubungkan dengan jimat atau jamus, sehingga berbunyi Jimat Kalimasada atau Jamus Kalimasada. Jimat adalah serapan dari bahasa Arab ‘azima, kurang lebih bermakna sesuatu yang bisa memberi kekuatan, sesuatu yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya dari bala dan penyakit. Sementara Jamus bermakna serat atau surat.

Dalam cerita pewayangan versi Jawa, Prabu Yudhistira mengamanatkan Jimat Kalimasada tersebut kepada Sunan Kalijaga. Dikisahkan bahwa Prabu Yudhistira baru bisa meninggal setelah diwejang oleh Sunan Kalijaga tentang makna sejati Jimat Kalimasada.

Cerita pewayangan versi ini tampaknya tidak disikapi sekedar sebagai mitos, tapi kemudian benar-benar dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi banyak pihak yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah satunya muncul dalam Babad Diponegoro. Dalam Babad yang konon ditulis oleh Pangeran Diponegoro ini, cerita tersebut dipakai sebagai salah satu argumen untuk melawan Belanda. Atas dasar cerita tersebut, Pangeran Diponegoro menegaskan bahwa Jawa adalah milik bangsa Jawa yang keturunan Pandawa dan berpusaka Kalimasada, oleh karena itu Belanda sama sekali tak berhak atasnya.

Nah, kalau dalam cerita pewayangan Jimat Kalimasada pernah dipakai oleh Prabu Yudhistira untuk mengalahkan keangkara-murkaan Salya beserta raksasa-raksasa ciptaan Aji Candrabirawa-nya; apakah saat ini Jimat Kalimasada sekali lagi dapat kita gunakan untuk melumpuhkan raksasa-raksasa hasil perkawinan negara adi daya dan kapitalisme global yang sedang mencengkeram kita? Atau, jangan-jangan Jimat Kalimasada itu malah sudah tak kita rawat lagi?

Anis Sholeh Ba’asyin - Pengasuh Rumah Adab Indonesia Mulia


Dokumen - Komunitas Cahaya

Mencari 'Sukrasana' di Negara Indonesia

Oleh: Indra Tranggono *

MENEMUKAN pemimpin sekaliber Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka terlalu mewah bagi bangsa kita.

Dalam degradasi watak manusia Indonesia yang serius, kini kita hanya butuh pemimpin yang memiliki kapasitas orang baik yang mrantasi (memberi solusi).

Kriteria orang baik itu mungkin bisa kita temukan dalam sosok Sukrasana, tokoh dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi sakti dan berwatak mulia. Ahli filsafat dari UGM, Damarjati Supadjar, memaknai Sukrasana sebagai ”suka sarana” atau memberikan jalan penyelesaian atas masalah. Makna itu merupakan analogi dari watak solider Sukrasana. Ia selalu siap berkorban untuk kepentingan orang lain, atas dasar cinta dan pengharapan mewujudkan dunia yang ideal.

Sukrasana bahkan tak pernah berhitung untung dan rugi atas pilihan itu. Termasuk ia harus terbunuh oleh kakaknya sendiri, Bambang Sumantri. Padahal, sang kakak telah dibantunya hingga berhasil menjadi bagian dari elite kekuasaan raja agung Harjuna Sasrabahu.

Sukrasana adalah monumen kesetiaan, integritas, dan komitmen yang telah menjadi rujukan kolektif. Dalam jagat politik kita yang dikuasai pencitraan ala Arjuna yang serba kinclong dan moblong-moblong (pesona diri yang berlebihan), Sukrasana menjadi antitesis yang sangat strategis. Ia melawan arus besar kegandrungan publik atas pemimpin yang memiliki keindahan citra fisik dan mentalitas manusia salon.

Terbukti, para pemimpin ala Arjuna itu tak memberikan perubahan signifikan bagi bangsa ini. Sebaliknya, bangsa ini justru harus melayani segala kemanjaan para ”Arjuna”, sekaligus jadi tong sampah bagi keluhannya.

Lebih menyedihkan lagi, para ”Arjuna” itu sering ngabul-abul (mengacaukan) kas kerajaan untuk membiayai kepentingan dirinya yang tidak terbatas. Anggaran pendapatan dan belanja kerajaan pun sering kali mereka gerogoti secara sistemis.

Kewajiban profetis

Manusia ”Sukrasana” tak memiliki mentalitas borjuistis-hedonistis ala Arjuna. Ia adalah manusia esensi atau manusia substansi yang tak butuh rumbai- rumbai artifisial dan mentalitas kemaruk. Ia telah mencapai titik kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan; sebuah fase di mana ia mampu melenyapkan seluruh ego dan superegonya.

Ia selalu berpikir bahwa dirinya tak lebih dari sekadar titah, makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban profetis, semacam tugas kenabian untuk membeberkan dan mewujudkan nilai-nilai ideal kehidupan. Satu-satunya pamrih dalam dirinya adalah pencapaian cita-cita yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bukan ingin dipuji atau merampas simpati publik.

Bagi manusia ”Sukrasana”, segala pencitraan tak lebih dari kosmetik untuk menutupi berbagai borok, baik borok personal, borok politik, maupun borok sosial. Sukrasana tak butuh bedak dan gincu pencitraan karena ia tak punya borok. Ia sangat percaya diri untuk tampil lugas, apa adanya, penuh sikap kesatria. Ini dadaku, mana dadamu, begitu ia berucap tanpa niat sombong, tapi tegas dan berani.

Kesederhanaan, kejujuran, kepatutan, dan kelayakan menjadi dasar kehadiran manusia ”Sukrasana”. Sikap ini bisa dimaknai sebagai asketisisme, pengekangan diri atas godaan duniawi yang menjebak manusia pada kubangan lumpur artifisialitas dan akhirnya bisa mengubah watak seseorang menjadi culas.

Konkretnya, karena manusia ”Sukrasana” adalah manusia esensi dan substansi, ia tidak membutuhkan cash flow tinggi untuk mengongkosi segala kegenitan dan kerakusan yang umumnya diidap manusia kebanyakan. Alhasil, manusia ”Sukrasana” tak perlu merendahkan diri menjadi pembobol APBN atau ”bertiwikrama” menjadi koruptor.

Sinergi elemen bangsa

Kita yakin bangsa ini memiliki manusia-manusia ”Sukrasana” meskipun jumlahnya sangat kecil. Mereka bisa berada di gerbong-gerbong kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) atau di lembaga-lembaga pendidikan, budaya, sosial, dan politik.

Dalam jagat kekuasaan yang dihegemoni oleh para raksasa dan rakseksi, manusia-manusia ”Sukrasana” cenderung tidak diberi atau mendapat tempat. Mereka malah justru dianggap sebagai gangguan, bahkan tak jarang dianggap ancaman. Kejujuran selalu jadi energi anomalis bagi struktur kejahatan.

Langkah terbesar dan strategis seluruh elemen bangsa ini adalah menghadirkan manusia-manusia ”Sukrasana” dalam kontestasi politik pada Pemilu 2014. Partai- partai politik, lembaga-lembaga sosial, budaya, agama, pendidikan, pers, dan seluruh pemangku kepentingan lain bangsa ini bisa membangun sinergisitas untuk memunculkan manusia-manusia berkaliber ”Sukrasana” menjadi pilihan rakyat.

Ini momentum penting untuk mengubah Indonesia yang punya masa depan konstitusional. Tentu saja bukan kedaulatan berlanggam kapital dan pasar yang dikendalikan kekuatan asing dan para makelar kekuasaan!

* Indra Tranggono - Pemerhati Kebudayaan Tinggal di Yogyakarta

Sumber: kompas.com . Judul asli: Mencari Sukrasna



Dokumen - Komunitas Cahaya

Mark R Woodward; Keberagamaan Orang Jawa: Pandangan dalam Islam in Java



Islam Mistis dan Islam Normatif
LATAR belakang pemikiran Woodward tentang Islam dan Jawa adalah untuk menjawab pertanyaan Hodgson, yaitu kenapa Islamisasi di Jawa berjalan begitu sempurna ? Menurutnya, Islamisasi di Jawa sangat berhasil karena Islam telah dipeluk dan dijadikan agama kerajaan oleh pemerintahan keraton Mataram dan rakyatnya untuk membangun konsepsi tentang teori kenegaraan.

Dari dasar pemikiran ini, Woodward  menyusun empat ciri pokok paham Jawa yang selaras dengan paham Islam, yaitu (1) konsep tentang keesaan Tuhan; (2) konsep mengenai makna lahir dan makna batin; (3) konsep hubungan antara kawulo (hamba) dengan Gusti (Tuhan); dan (4) konsep tentang makrokosmos dan mikrokosmos. Berdasarkan keselarasan dalam keempat konsep ini Woodward sampai pada kesimpulan bahwa semua kepercayaan di Jawa berpangkal pada keempat pokok masalah ini, terlebih khusus hampir semua kepercayaan di Jawa berujung pada konsep adanya Dzat Yang Maha Tinggi, yang tidak lain Tuhan Yang Esa. Karena pijakan inilah, Woodward berkesimpulan bahwa berbagai kepercayaan di Jawa pada dasarnya adalah telaah Islam.

Muncul pertanyaan, bagaimana Woodward menyikapi pembagian Geertz yang membagi kepercayaan Islam Jawa dalam tiga jenis, yaitu abangan, santri, dan priyayi. Semula Woodword mengaku telah mengikuti teori Parsudi Suparlan yang menyatakan bahwa orang-orang Muslim Jawa yang menekuni mistik (tradisi dari priyayi dan abangan) disebut Islam Jawa, sedangkan orang-orang kebatinan disebut Kejawen.  Woodward mengambil posisi meringkas  ketiga bagian itu ke dalam dua pembagian, yaitu “Islam Mistis” yang dianut oleh priyayi dan abangan serta “Islam Normatif” yang diikuti oleh santri.

Woodward membuat tesis dengan teori bahwa menyikapi adanya pembagian itu, yang menjadi persoalan adalah bukanlah pembagian-pembagian itu, akan tetapi bagaimana hubungan antara bentuk-bentuk religiusitas harus dibangun.   Dari asumsi ini, Woodward mensyaratkan adanya satu titik pandang dalam melihat perbedaan itu yang pada akhirnya Woodward menyimpulkan bahwa titik pandang itu adalah “Islam”.

Keempat titik pokok itu dapat dijelaskan sebagai berikut: pertama, konsep tentang ke-Esa-an Tuhan. Tema ke-Esa-an Tuhan dalam Islam diyakini sebagai doktrin utama Islam yang dikenal dengan konsep tauhid. Dalam kebatinan Jawa, menurut Woodward, ternyata hampir semua kepercayaan bertujuan untuk menuju bahkan menyatu dengan Tuhan.  Menurutnya, hampir tidak ada satu pun kepercayaan Jawa, termasuk pemeluk agama Budha di Jawa, yang nyata-nyata memiliki doktrin anatta (impersonalitas atau ketiadaan jiwa) yang tidak menerima konsep ketuhanan yang maha Esa.
Kedua, soal konsep mengenai makna lahir dan batin.

Menurut Woodward, tradisi Islam dan tradisi Jawa mengenal konsep ini. Dalam Islam, Al-Qur'an adalah mengatur prilaku, sedangkan makna batin Al-Qur'an adalah mistik dan pengetahuan tentang Allah. Dalam tradisi Jawa juga dikenal istilah lahir batin, atau dengan bahasa lain disebut wadah dan “isi”. Wadah dimaksudkan untuk menyebut hal-hal yang tampak, seperti alam, bentuk-bentuk badan manusia, dan kesalehan normatif. Sedangkan “isi” dimaksudkan dengan substansi persoalan, yaitu Allah, sultan, jiwa, iman, dan mistisisme.

Ketiga, konsep mengenai hubungan antara hamba dan Gusti merupakan titik temu ketiga. Dalam sejarah tradisi mistik Islam, sangat banyak tema yang menyatakan hubungan antara hamba dan Tuhan, seperti ittihad, hulul dan wahdat al-wujud. Dalam tradisi kebatinan Jawa dikenal tema sentral yang membicarakan tentang hubungan antara hamba dan Tuhan dengan istilah jumbuhing kawula Gusti,  atau manunggaling kawula-Gusti.

Keempat adalah soal konsep mengenai penyamaan mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam tradisi mistisisme Islam dikenal bahwa manusia adalah bayangan Tuhan, manusia sebagai mikrokosmos dan Tuhan sebagai makrokosmos. Dalam mistik Jawa, sebagai gambaran penyamaan mikrokosmos-makrokosmos, dikenal penyamaan antara ka'bah dengan hati manusia.

Ka'bah sebagai pusat makrokosmos sama dengan hati sebagai mikrokosmos. Dari persepsi ini, nanti dalam persepsi Jawa terdapat pemahaman bahwa ibadah haji tidak mesti ke Mekkah, tetapi cukup dalam dirinya sendiri.

Dari keempat titik temu inilah, Woodward menyimpulkan bahwa pada dasarnya kebatinan-kebatinan yang ada di Jawa semuanya sejalan dengan Islam. Kesimpulan ini telah memberikan implikasi teoritis, atau bisa disebut sebagai sumbangan pengetahuan terhadap studi Jawa, yaitu telah menawarkan paradigma baru, walaupun barangkali pengaruhnya tidak sekuat Geertz, dalam cara menganalisa kepercayaan-kepercayaan di Jawa.

 Kritik yang muncul menyikapi logika Woodward ini adalah tuduhan mengambil kesimpulan yang gegabah. Paul Stange, misalnya menyatakan bahwa generalisasi Woodward ini sangat berbahaya bagi alur logika yang benar bagi perkembangan studi di Jawa. Karena menurut Stange, masih ada aliran kepercayaan yang ingin berdiri sendiri, atau ingin diakui sebagai agama tersendiri seperti penganut aliran kepercayaan.

Dalam penjelasan Woodward, Islam Jawa itu adalah “Islam Mistis”. Bersebelahan di sisi lain  adalah “Islam Normatif”. Dalam bahasa Geertz, barangkali ini yang disebut santri. ‘Islam Normatif” adalah Islam yang memegang syariah, meski dalam konteks tertentu juga meyakini adanya sufisme. Akan tetapi makna sufisme kalangan “Islam Normatif” tetap dibarengi dengan syari’ah ini secara formal. Berbeda dengan kalangan “Islam Mistis” yang kemudian disebut Islam Jawa, maka “Islam Mistis” melakukan tafsir sendiri atas ajaran Islam. 

Dari uraian Woodward itu, bahwa Islam Jawa itu dapat dijelaskan dengan karakteristik dari dua segi: penekananannya pada aspek batin dan melaksanakan ritus-ritus tertentu sebagai manifestasi dari penekanan pada aspek batin ini. Selanjutnya, soal ini akan dijelaskan  di bawah ini.

Islam Jawa: Antara Aspek Batin (Mistik) dan Ritus
Dalam hal ini Woodward  melihat bahwa Islam Jawa cenderung menekankan aspek “isi” (dalam bentuk mistik) dari pada wadah (kesalehan normatif/syariah). Persepsi mereka tentang yang dimaksud “isi” adalah Allah, sultan, batin, dan mistik. Sedangkan “isi” mistik itu sendiri meliputi keberadaan wahyu, kasekten, kramat dan kesatuan mistik.

Konsep wahyu dalam perspektif Jawa sedikit berbeda dengan prototip Arab. Wahyu dianggap sebagai substansi fisik, sering berupa cahaya benderang, dalam konsep Jawa disebut sebagai pulung, yang menyampaikan penghormatan dan penunjukan ilahiyah pada seseorang. Penerima wahyu diyakini memancarkan cahaya lembut yang beremanasi dari nurani atau hati. Wahyu dipercayai berhubungan dengan  takdir, dimana ia tidak boleh diperoleh melalui usaha-usaha pribadi atau ibadah keagamaan. Hanya Allah sendiri yang memutuskan siapa yang akan menerimanya.

Kasekten atau kesaktian bisa diperoleh dengan melakukan tapa keras atau dengan menyatukan roh seseorang dengan salah satu dari sumber kesaktian dunia, seperti matahari, angin, dan gejala alam lainnya. Kesaktian dianggap sebagai substansi, karenanya kesaktian bisa disimpan didalam diri atau disimpan pada suatu obyek. Obyek-obyek ini kemudian sering dikenal sebagi pusaka.

Kramat (karomah) dalam persepsi orang Jawa adalah mencirikan pencapaian religius para wali. Kramat bisa diperoleh melalui pembersihan jiwa dan pengembangan hubungan dengan Allah. Kramat juga dianggap sebagai salah satu pandahuluan menuju kesatuan mistik. Kramat bisa juga berarti sebagai makam para wali atau sultan. Biasanya sebagian masyarakat berusaha mendapatkan berkah dari para wali itu dengan menziarahi (makam) itu, yang dianggap masih memiliki karamah.

Kesatuan mistik yang merupakan konsep puncak Islam Jawa yang diistilahkan dengan jumbuhing kawulo-Gusti atau manunggaling kawulo-Gusti yang memiliki konsep yang serupa dengan Ibn al-'Arabi yang menyatakan: "saya bukanlah saya, engkau bukanlah engkau, juga engkau bukanlah saya. Saya sekali waktu adalah saya dan engkau, engkau sekali waktu adalah engkau dan saya." Dalam literatur Jawa, konsep persatuan mistik ini terdapat dalam konsep-konsep perjuangan jiwa melawan nafsu dan berhaji ke dalam hati yang diilustrasikan sangat jelas dalam lakon wayang Dewa Ruci.

Lakon itu menceritakan pengabdian Bima kepada gurunya, pertempuran-pertempurannya melawan raksasa yang melambangkan nafsu dan pencariannya terhadap air kehidupan (kesatuan dengan Allah).

Untuk mengekspresikan mistik yang demikian itu, orang Jawa memiliki ritus-ritus tertentu sebagai wadah dari mistik tersebut. Ritus-ritus yang paling permukaan dan umum tampak dalam tradisi yang dilaksanakan kalangan masyarakat adalah tradisi slametan. Ada beberapa bentuk upacara slametan antara lain: slametan kelahiran, slametan khitanan dan perkawinan, slametan kematian, slametan berdasarkan penaggalan, slametan desa dan slametan sela.

Woodward sampai di sini, tampak sekali ingin mengatakan bahwa Islam Jawa adalah jenis lain dari Islam, meskipun mereka tidak melaksanakan ritus-ritus dari kalangan Islam normatif. Berbeda dengan Geertz yang mencoba menseparasikan varian abangan dengan santri, seakan-akan abangan bukan Islam (meski secara tersurat Geertz menyebut abangan sebagai bagian dari Islam yang tidak taat), maka Woodward justru menyebut abangan sebagai Islam Jawa yang juga Islam, tetapi dengan jenis tafsir lain, bukan dalam konteks taat atau tidak taat.

Sumber bacaan:
1. Mark R Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Terj. Hairus Salim HS, (Yogyakarta: LkiS, 1999)
2. M. Murtadho, Islam Jawa; Keluar dari Kemelut Santri vs Abangan, (Yogyakarta: Lapera, 2002)


Dokumen – Komuntias Cahaya

Nama Asli Gunung di Indonesia Sebelum Manipulasi Sejarah

NAMA ASLI GUNUNG-GUNUNG DI INDONESIA SEBELUM MANIPULASI SEJARAH

Pada jaman kejayaan para raja-raja di Nuswantara (Nusantara) semua gunung memiliki arti yang sakral. Dan membuat penamaan gunung-gunung tersebut memiliki arti yang tidak sembarangan pula.

Namun penjajahan Belanda (Eropa) selama ratusan tahun telah memutus Sejarah Asli Nuswantara dengan putra-putri penerus leluhur bangsa "Indonesia".

Diantaranya juga memutus sejarah nama-nama gunung dan mengganti nama-nama gunung yang tersebar di Nuswantara tersebut. Hal ini ada maksudnya, karena bila nama gunung diketahui oleh generasi penerus, maka akan diketahui pula kejayaaan dan harta-harta kerajaan-kerajaan yang umumnya hidup makmur kemah ripah loh jinawi berada disekitar gunung-gunung tersebut, dan tidak mungkin bila esok pagi akan bangkitnya kembali semangat untuk menuntut apa yang menjadi hak warisnya.

Kini saatnya, putra-putri di Nuswantara harus tahu kembali tentang yang sesungguhnya, bahwa bahasa utama para leluhur Nuswantara adalah bahasa Sansekerta. Pada awalnya nama-nama gunung di Nuswantara menggunakan bahasa Sansekerta, berikut nama-nama gunung tersebut:

A – K
• Bromo = Bromo (tetap)
• Cikuray = Prawitra
• Ciremai = Indrakila
• Dieng = Sang Hyang
• Galunggung = Kendyaga
• Gede = Katong
• Gunung Karang = Nisada
• Kawi = Kawi (tetap)
• Kelud = Kampud

L – R
• Lawu = Mahendra
• Merbabu = Limohan
• Muria = Retawu
• Papandayan = Gn Danghyang
• Penanggungan = Penanggunangan (tetap)
• Perahu = Baito
• Pulosari = Pulosari (tetap)
• Raung, dan gunung-gunung didekat gunung Raung Jawa Timur dulunya adalah gunung Semeru yg asli

S – Z
• Salak = Sapto Argo
• Slamet = Jamurdipa
• Semeru (yang sekarang) = Salaka
• Sumbing = Sungging
• Sundoro = Sundoro (tetap)
• Toba = Kelasa
• Ungaran = Sakya
• Welirang = Gora
• Wilis = Pawinihan

Beberapa nama gunung lainnya masih dalam pendataan.



Sumber: Agung BS/TS dan Editing Yuddi Aitiawan
Dokumen - Komunitas Cahaya

Muhammad Saw Bapak Sejarawan Dunia

Oleh : Sufyan Al-Jawi
 
SIAPA BAPAK SEJARAWAN DUNIA?
Orang-orang mungkin akan menjawab; Plato. Seorang filusuf yunani yang populer dengan kisah "Atlantis Benua yang Hilang". Jawaban ini kurang tepat alias salah. Sebab Pluto mengisahkan sedikit sekali tentang Atlantis-nya itu. kemudian dongeng menjadi bumbu-bumbu yang dominan tentang kisah folklore itu. Sehingga ia tak layak menyandang gelar Bapak Sejarawan Dunia.

Justru Nabi Muhammad SAW -lah Bapak Sejarawan Dunia! Kenapa Beliau? Apa metodologi pembuktiannya? Apa ini sekedar partisan, karena saya adalah Muslim? MARI KITA BUKTIKAN:

1. Mu'jizat beliau yang berupa; Al Qur'an dan Al Hadits Shahih (masih banyak mujizat lainnya) merupakan sumber rujukan sejarah yang benar & terbukti secara ilmiah faktanya. Isi Al qur'an; 2/3 adalah kisah sejarah (baik itu sejarah masa lampau (zaman Azali), maupun sejarah masa depan (zaman Akhirat).**)

2. Nabi Muhammad SAW mendapat rujukan langsung dari Allah Sang Pencipta Sejarah, beliau mewajibkan setiap manusia untuk mengenal silsilah leluhurnya (bin atau binti), orang-orang Eropa justru menganjurkan untuk hapus silsilah. Silsilah minimal nama ayah, kakek dan buyutnya. Misal: Sofyan Sunaryo bin Samijan bin Santriman bin Tamper bin Senidin al Jawi (ini masih panjang, dan dibuktikan dengan maqam jasadnya). Sehingga masing-masing manusia tahu jatidirinya. dan mewajibkan Sanad dalam menelaah ilmu, khususnya ilmu agama. Saya tahu jatidiri saya adalah trah Majapahit karena Metode nasab ini. (Nasab/genetika tidak bisa dipalsukan atau Sekedar aku-aku. ini tindakan bego sia-sia).

3. Syariat beliau mewajibkan kita beriman kepada kitabullah: Taurat (Nabi Musa AS), Zabur (Nabi Daud AS), Injil (Nabi Isa AS) dan Al Qur'an (Nabi Muhammad SAW) yang juga memuat sejarah. Juga beriman kepada Suhuf-suhuf Allah SWT dari Nabi Adam AS, Nabi Syits AS, Nabi Idris AS, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS. Bagaimana dengan Kitab Weda dan Tripitaka? Bila isinya adalah ajaran Tauhid (Hyang Maha Esa) itu pasti suhuf (**) nanti saya bahas dalam Agama Purba Nuswantara). Menunjukan bahwa info yang beliau ajarkan tidaklah terputus.

4. Dalam menelaah ilmu pengetahuan, Islam Meng-Haram-kan metode Elmu Klenik alias Sihir (melibatkan makhluk Astral, jin dan sejenisnya). Islam mewajibkan uji ilmiah. Lalu Seribu tahun kemudian, orang-orang Barat mengadopsi ini setelah leluhur mereka belajar di kampus-kampus Andalusia. **) Hanya orang bodoh yang menolak uji ilmiah!

Kita Ambil Contoh: SITUS GUNUNG PADANG Situs Gunung Padang & Fenomena Zona X yang kini tengah populer dibahas. Bahkan Tim Arkeolog Terpadu (Ali Akbar) pun sedang melakukan ekskavasi permulaan (mudah2an segera dilanjutkan dengan rekontruksi/ pemugaran dus penelusuran sejarahnya - historiografi dengan benar) Al Qur'an dan Al hadits menerangkan tentang adanya peradaban manusia yang luar biasa. Namun setelah mereka mampu berjaya, pemimpin mereka sombong takabur (mengagungkan diri) dengan berlaku layaknya dewa dewi yang wajib disembah oleh rakyatnya. Sehingga kafir (ingkar) kepada ajaran Nabi yang diutus kepada mereka.

Rasul Allah ditolak dan bahkan dibunuh oleh pemimpin & rakyat negeri itu. Lalu Allah Taala membinasakan dan menghapus jejak peradaban mereka. Putus hubungan dengan generasi selanjutnya yang berasal dari suku lain. Perihal Situs Gunung Padang di Jawa Barat. itu merupakan tinggalan purbakala, yang bila dikaji secara ilmiah, sebagai arkeolog, saya juga menduga ada kaitannya dengan Atlantis Nuswantara. Namun saya tidak kaji dulu, sebab saya harus selesaikan historiografi Majapahit, untuk menjelaskan yang sebenarnya. Insya Allah.

Lihat saja komentar miring beberapa antrhopolog dan arkeolog tentang Situs Dahsyat ini. Kita sebut saja; Arkeolog gaek UI - Prof. Hasan Jafar saat diwawancari oleh Metro TV. Dia memberikan jawaban yang sangat Ngawur dan tidak ilmiah. Dia berkata: "Bongkahan balok-balok batu di Gunung Padang adalah posil pohon purba yang telah membatu." Lalu Metro TV membuat animasinya. Sebagai arkeolog, Saya tertawa terpingkal-pingkal. Kenapa? Sebab ini lebih lucu dari film Doraemon!! Lah, kalo ribuan balok-balok batu itu adalah fosil kayu zaman purba. Hm, ini usianya pasti sudah Ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang lampau! Lalu siapa yang bikin batang-batang pohon menjadi balok-balok kayu yang ditumpuk di sana? dinosaurus? apa manusia kera zaman Azali (homo Sapien) ?

Bapak Sejarawan Dunia, Nabi Muhammad SAW melalui Al Qur'an dan Al Hadits mengabarkan, bahwa "homo sapien" memang biadab! membunuh dan berbuat kejahatan terhadap sesamanya, makanya di musnahkan. Tapi homo sapien tidak cerdas, karena dia bukan manusia. Allah Sang Pencipta Sejarah hanya mengajarkan Ilmu Pengetahuan & Teknologi kepada Adam AS dengan sempurna, secara langsung saat tinggal di Surga. Ilmu ini menurun secara genetika. Gak perlu bikin sekolahan.. Nah, diantara anak cucu Adam AS yang terpencar ke penjuru dunia, mereka mengembangkan teknologi. Buktinya: Anak cucu Adam AS - mayoritas manusia suka koq dengan Emas & Perak, dan ada banyak yang ahli mengolahnya! Siapa yang ajarin mereka? Genetika dan Uji ilmiah!! Toh Mayoritas Sarjana modern juga masih banyak yang bego dengan Emas & Perak. Ga bisa bedakan Asli Palsunya! Bahkan gak tahu fungsinya (contoh kecil) Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bangsa dari keturunan Adam AS yang teknologinya sangat maju. Karena mereka ini jahat tabiatnya, maka Allah perintahkan Seorang Nabi-Nya untuk Mengurung mereka dalam daerah-daerah misterius Zona X. keberadaan Zona X ini dapat dibuktikan secara ilmiah. Lalu ketika Samiri orang Yahudi pembangkang Nabi Musa AS berhasil memperdaya Nabi Harun AS. Dia diusir, dan diasingkan di sebuah pulau atau benua. Dan seterusnya **) BERSAMBUNG

Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nusantara Purba

Oleh: Yuddy Aditiawan

Dalam banyak buku sejarah dikenalkan bahasa Sansekerta yang banyak ditulis dalam peninggalan artefak batu bertulis berasal dari induk bahasa India yang dibawa sebagai akibat pengaruh kedatangan bangsa India ke Pulau Jawa. Penduduk kepulauan ini berasal dari Indo-China. Tetapi di abad ke XXI baru dapat ditemukan bahwa teori tersebut memutar balikan fakta sesungguhnya.

Para ahli bahasa menyebut Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nusantara Purba, mengapa tidak menggunakan istilah bahasa Indonesia Purba? Nama Indonesia dikenal pada abad ke XIX. Istilah Indonesia untuk pertama kalinya ditemukan oleh seorang ahli etnologi Inggris bernama James Richardson Logan pada tahun 1850 dalam ilmu bumi.

Istilah Indonesia digunakan juga oleh G.W. Earl dalam bidang etnologi. G.W. Earl menyebut Indonesians dan Melayunesians bagi penduduk Kepulauan Melayu. Pada tahun 1862 istilah Indonesia digunakan oleh orang Inggris bemama Maxwell dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi.

Sedangkan penyebutan Jawa dikenal sejak abad ke 2 Masehi dalam karya Cladius Ptolemaeus dalam kitab Geographike Hyphegesis. Nama pulau Jawa dikenal dalam kitab tersebut dengan nama Chryse Chernesos artinya negeri emas dan semenanjung emas (seuai namanya berarti negeri ini dahulu kaya akan EMAS). Dalam kitab tersebut disebutkan nama sebuah tempat Iabadiou atau Pulau Jelai. Iabadiou dibaca Yawadiwu, Yawa bahasa sansekerta artinya Jelai, diwu bahasa pakrit dapat pula disebut dwipa dalam bahasa sansekerta.

Meskipun Prof. Krom sendiri tidak yakin akan hal ini, tetapi setidaknya nama Jawa sudah dapat dipahami pada masa itu. Pada tahun 732 Masehi pada Prasasti Canggal menyebut nama Dwipa Yawa, juga dalam berita Cina menyebut nama Yeh-p’o-t’i untuk pulau Jawa, meski beberapa sarjana menganggap” tidak harus diartikan sebagai pulau Jawa”. Bahkan prasasti di Angkor Wat menyebutkan bahwa pada abad  V Kamboja pernah diserang oleh pasukan dari Kerajaan Jawa sehingga porak poranda. Dan pada abad VII  Raja Jayawarman II menyerang kerajaan Jawa dan berhasil dengan kemenangan gemilang. Jadi nama yang dikenal di Cina, Kamboja dan India hanya dua nama yakni Suvarnnabumi dan Yawadwipa.

Bahasa Nusantara purba adalah bahasa Jawa tempo doeloe yaitu bahasa Jawa yang dikenal dalam keserumpunan bahasa Melayu Purba, digunakan di Malagasi dan beberapa tempat di daratan Asia Tenggara (Slamet Mulyana, 1964 ; 18-19), yang kemudian oleh J. Crawfurd melakukan penelitian kosakata dalam berbagai kamus mengenai bahasa-bahasa di Austronesia, yang diperbandingkan satu persatu, dengan bahasa Jawa, antara lain :

a. 8000 kata Malagasi ada 140 kata yang sama dengan bahasa Jawa

b. 4560 kata Selandia Baru ada 103 kata yang sama dengan bahasa Jawa

c. 3000 kata Marquesas ada 70 kata yang sama dengan bahasa Jawa

d. 9000 kata Tagalog ada 300 kata yang sama dengan bahasa Jawa

Bahwa angka kesamaan yang hanya sekitar 2% itu dianggap tidak ada kesamaan dalam keserumpunan, meski demikian ada dua hal yang patut untuk dicatat yaitu;

1) Bahwa orang “Indonesia” bukan berasal dari mana-mana bahkan merupakan induk sukubangsa di dunia yang menyebar ke seluruh penjuru dunia;

2) bahasa Jawa adalah bahasa tertua dan bahkan merupakan induk dari bahasa-bahasa Austronesia yang lain.

 Dalam hal ini P.J. Veth tidak sependapat mengenai bahasa Jawa sebagai bahasa Induk dari bahasa-bahasa Austronesia termasuk Wilhem van Humboldt (1836) tentang tanggapannya terhadap bahasa Jawa kuna yang disebut sebagai bahasa Kawi yang terintervensi oleh bahasa Sansekerta (Slamet Mulyana, 1992 ; 19) , tetapi setidaknya bahasa Jawa memiliki konten yang menarik untuk dipelajari, diteliti dan dikemukakan kepada masyarakat penutur bahasa Jawa khususnya.

Para peneliti bahasa Jawa pada saat itu hanya memelajari serat-serat kasusastran Jawa sebagai bukti peninggalan sejarah dari abad IX- XVII Masehi, sebab bahasa Jawa yang asli sudah sulit untuk diketemukan lagi karena pada saat itu sama sekali tidak dibukukan dalam bentuk kamus (bausastra Jawa) atau yang sejenisnya (Poerbatjaraka, 1952 ; vii).

Nampaknya kasus yang dihadapi bahasa Jawa purba tempo doeloe, adalah kehilangan saksi bisu yang berupa tradisi tulis (Poerbatjaraka, 1952 ; vii), dan ini sangat menyulitkan untuk melacak kesejarahan bahasa Jawa, sebelum lahirnya bahasa kawi atau bahasa jawa kuna.

Barulah ketika orang-orang India masuk ke Nusantara ini, kedua bangsa (pribumi dan migrant) ini mengadopsi tradisi tulisan yang kemudian dikembangkan secara turun-temurun (Poerbatjaraka, 1952 ; vii), dengan cara saling bertukar informasi dan terjadinya perkawinan antara pribumi dan pendatang.

Pada akhirnya ditentukan garis, sebagai batas waktu penelitian sejarah kebudayaan Jawa, yakni sejak masuknya kebudayaan India ke Austronesia (kepulauan Nusantara) dalam hal ini ke pulau Jawa.

Dari sekian perjalanan sejarah penguasaan asing di Nusantara, yang sangat dominan pengaruhnya dalam ke-bahasa-an Jawa adalah dari Bahasa Sansekerta dan Arab, pengaruh tersebut tidak hanya pada kosakatanya, tetapi juga dalam kaidah paramasastra banyak sekali dipengaruhi oleh kedua bahasa tersebut. Hal ini tentu saja tidak bisa dihindari lagi, karena hampir semua bahasa di dunia dipengaruhi oleh kedua bahasa tersebut (Hazeu, et al., 1979 ; 111-112).

Sejarah bergulir seiring dengan perjalanan waktu, bahasa Jawa purba akhirnya digantikan oleh bahasa Jawa kuna yang sebagian besar dipengaruhi oleh masa pemerintahan Hindu sejak zaman dinasti wamça Syailendra, dan wamça Sanjaya yang berturut-turut menguasai Nusantara ini, mulai dari Rakai Mataram 732-760 M sampai Rakai Watuhumalang dipertengahan abad IX (Sulaiman, 1980 ; 107) , dengan bukti teks Jawa kuna sebelum aksara Jawa kuna digunakan secara resmi, seperti pada prasasti Canggal 732 M, Kalasan 778 M, Karangtengah 804 M, Gandasuli 832 M, Perot 850 M, Ratubaka 856 M, Pereng 864 M, Argapura 864 M maupun Salingsingan 876 M.

Jarak antara peralihan bahasa Jawa purba (Sundik) ke bahasa Jawa kuna ini pun cukup panjang, mungkin beberapa abad, karena memang tidak ada bukti yang menandai perjalanan waktu tersebut, seperti artefak dan sejenisnya. Munculnya pengakuan atas kekuasaan yang pernah menguasai pulau Jawa tertua tentang dinasti Salakanegara, yang menyatakan telah berdiri jauh sebelum kerajaan Tarumanegara, maka setidaknya bahasa Jawa kuna atau sebelumnya, pernah digunakan oleh orang – orang Jawa pada jaman dahoeloe kala. Jika benar apa yang ditulis dalam naskah Wangsakarta tentang keberadaan kerajaan Salakanegara, yang pernah menggunakan bahasa Jawa purba, maka setidaknya bahasa Jawa itu sudah dikenal pada masa abad III Masehi, atau mungkin sebelum itu sekitar awal abad satu masehi.

Pengaruh budaya India dalam bentuk seni patung yang banyak ditinggalkan di Indonesia (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur), memberikan bukti bahwa budaya Hindu benar-benar menguasai di negeri ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari peninggalan yang berupa; artefak, prasasti, candi dan patung dewa-dewa termasuk patung Budha, adalah merupakan tanda bahwa keberadaan budaya Hindu maupun Budha pernah ada dan berpengaruh besar di Nusantara ini.

Peradaban dunia dalam tradisi bahasa tulis, yang sudah dimulai sejak jaman Mesir kuna, yakni dengan bukti berupa pyramid dan artefak lainnya, yang mungkin terjadi sekitar 6000 tahun yang silam. Yang secara berangsur-angsur peradaban itu bergeser sampai ke Yunani serta mengalami masa kejayaan ketika memasuki jaman Romawi, yang kemudian sejalan dengan proses dinamika kehidupan, peradaban itu bergeser ke India. Padahal bagi orang India (Hindu) sendiri sebenarnya mereka itu dibawah pengaruh orang Indo-Arya yang datang dari Iran migrasi ke India dan banyak mempengaruhi terhadap budaya yang dianut oleh orang India yakni Hindu termasuk dewa-dewa sampai pada penambahan kasta yang semula hanya tiga, dengan kasta çudra sehingga menjadi empat kasta (Cardozo, 1985 ; 3).

Ketika orang membicarakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nusantara, apakah itu politik, ideologi, budaya, sosial ekonomi maupun pertahanan dan keamanan, maka tidak bisa melepaskan diri dari alur sejarah yang ada di bumi Nusantara ini. Menurut para ahli arkeologis, bahwa sejak jaman prasejarah penduduk Nusantara ini adalah pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas, hal ini sehubungan bahwa kepulauan Nusantara adalah tergolongan Negara perairan.

Meski demikian lautan bukanlah sebagai penghalang untuk menjalin komunikasi dengan penduduk dipedalaman pulau, sehingga perjalanan air merupakan komoditas transportasi yang utama. Hampir seluruh sejarah kehidupan di bumi Nusantara ini berawal dari laut ke laut, oleh sebab itu kebudayaan dipesisir cenderung lebih maju daripada yang ada dipedalaman. Interaksi sosial dengan antar etnis, budaya, bahasa, agama banyak didominasi oleh penduduk pesisir.

Dalam penelitian prasejarah, benda-benda peninggalan yang mengandung ciri yang menunjukkan hubungan interinsulair antara kepulauan Nusantara dan Asia tenggara, adalah berupa artefak yang berbentuk Nekara dari perunggu, dan ini dipandang sebagai sasaran penting dalam penelitian purbakala yang dilakukan oleh para ahli arkeologi. Yang sangat terkenal dalam hal ini adalah Dr. F. Heger, dalam klasifikasinya bahwa nekara dibedakan dari tipe local dan tipe Asia Tenggara.

Meskipun ada anggapan bahwa nekara ini dibuat di Nusantara karena memang terbukti adanya peninggalan berupa cetakan – cetakan pengecoran logam pada jaman prasejarah, tetapi mungkin juga bahwa Nekara itu memang dibuat dan dibawa dari daratan Asia Tenggara, seperti Nekara di Sangeang (Poesponegoro, et al., 1984 ; 3). Dalam hal Nusantara itu diketemukan oleh orang-orang dari daratan Asia Tenggara khususnya para pedagang dari India, beberapa ahli berpendapat bahwa Kepulauan Nusantara telah berkembang kehidupan masyarakatnya, sehingga memungkin orang-orang yang bermigrasi itu, akan memperoleh manfaat yang besar dalam menjalin hubungan tersebut, JC. Van Leur dan O.W. Wolters berpendapat bahwa hubungan antara India dan Indonesia lebih dahulu jika dibandingkan dengan hubungan Indonesia – Cina.

Walau demikian, meski dikatakan bahwa hubungan India dengan Indonesia itu dianggap lebih awal, namun terdapat kesulitan untuk menentukan ketepatan waktunya. Hal ini mengingat bahwa sumber-sumber informasi yang dapat memberikan kejelasan secara tertulis yang berasal dari Nusantara, menurut penelitian para ahli ternyata tidak ada. Sedangkan tulisan yang umum digunakan di Nusantara ini justru berasal dari tulisan (aksara) India. Namun demikian sumber-sumber di India tidak pernah membuat catatan- catatan resmi mengenai suatu kejadian penting dalam suatu kurun waktu tertentu.

Sumber yang dapat digunakan sebagai acuan dari India hanyalah sastra, yang tentu tidak bertujuan untuk memberikan fakta-fakta tentang keadaan awal terjadinya hubungan bilateral antara India dan Indonesia. Para peneliti menyebut adanya kitab ‘ Jataka’, yang memuat kisah sang Budha dan didalamnya menyebut tentang suvarnnabhumi sebagai sebuah negeri yang untuk mencapainya, memerlukan perjalanan penuh bahaya.

Tetapi Suvarnabhumi tidak identik dengan Nusantara, karena S. Levi dalam Ptolemee le Nidessa et la Brhakatha, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sebuah negeri di sebelah timur teluk Benggala. Kecuali itu ada kitab lain yaitu Ramayana, dalam kitab tersebut menyebut nama Yawadwipa, yang dihiasi oleh tujuh Kerajaan. Pulau ini adalah pulau emas perak. Juga menyebut nama Suwarnadwipa, yang kemudian dijadikan nama pulau Sumatera, salah satu sastra India yang oleh para ahli dianggap dapat dipercaya adalah kitab Mahaniddesa, Levi berpendapat bahwa keterangan geografis mengenai beberapa tempat di timur jauh yag terdapat didalamnya mencerminkan perbendharaan pengetahuan di India mengenai tempat-tempat itu pada abad III Masehi. Dalam usahanya untuk mengetahui awal hubungan India dengan daerah-daerah disebelah timurnya, para peneliti telah mengkaji sumber-sumber barat jaman kuna (Levi, 1925 ; 29).

Sebuah kitab yang dijadikan sumber adalah Periplous tès Erythras thalassès. Periplous adalah kitab pedoman untuk berlayar di lautan (Erythrasa) yaitu Samudera Hindia. Diperkirakan kitab itu ditulis pada awal tarikh Masehi (Wheatley, 1961: 129). Dari beberapa sumber yang berusaha untuk menemukan hubungan awal India dengan Nusantara baik sumber dari India maupun sumber Barat, belum dapat mengungkapkan sepenuhnya awal hubungan India-Nusantara. Tetapi dapat diambil kesimpulan di sekitar abad II Masehi, dan hubungan itu relative sudah intensif.

Ketika dimunculkan pertanyaan; apa alasan dagang orang India ke Nusantara? Dijawab oleh Coedès memberikan penjelasannya, bahwa pada awal tarikh Masehi India mengalami defisit yang luar biasa, mereka kehilangan sumber emas yang utama yang didatangkan dari Siberia melalui Baktria (Yunani). Tetapi ada berbagai gerakan yang memutuskan jalur perdagangan tersebut. Sebagai gantinya India mengimpor mata uang emas dalam jumlah besar dari Romawi. Usaha inipun kemudian dihentikan oleh kaisar Romawi Vespasianus (69-79 M) karena, mengalirnya mata uang emas yang dalam jumlah besar keluar negeri akan membahayakan ekonomi Negara. Kemungkinan dengan alasan inilah India melakukan terobosan kearah timur yang telah dikenal sejak dahoeloe sebagai penghasil emas dan perak. Jika benar teori Coedès maka hal itu akan menegaskan bahwa tentang alasan India ke Nusantara hanyalah semata-mata soal perdagangan saja, bukan alasan politik sebagaimana yang diajukan oleh para peneliti abad XX (Coedes, 1968 ; 20).

Perdagangan Asia Tenggara dengan India adalah perdagangan Internasional dalam pasaran internasional pula, sehingga misi perdagangan ke Nusantara pada saat itu tentu bukan sekedar perdagangan kecil-kecilan.

Van Leur menyebut perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang India itu misalnya; logam mulia, jenis tenunan dan rempah-rempah, juga kayu gaharu dan cendana. Kehadiran orang India di Asia Tenggara cukup mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia perdagangan di Nusantara. Sedangkan unsur-unsur budaya India yang dapat mempengaruhi dalam budaya Indonesia, peranan ini lebih dilakukan oleh para Brahmana. Yang kedatangannya atas undangan dari para penguasa Indonesia (Poesponegoro, et al., 1984; 24).

Berkembangnya pengaruh budaya India di Nusantara
Hubungan dagang antara India dan Indonesia itu telah berimbas pada masuknya pengaruh budaya India ke dalam budaya Nusantara. Tentang bagaimana sesungguhnya proses itu berlangsung, para ahli membagi dua hal pokok, yaitu ;

1) Bertolak dari anggapan bahwa bangsa Indonesia berlaku pasif dalam proses tersebut

2) memberikan peranan aktif kepada bangsa Indonesia.

Pendapat pertama menganggap telah terjadi kolonisasi oleh orang-orang India. Koloni – koloni orang India ini menjadi pusat penyebaran budaya India. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam kolonisasi tersebut terjadi pula penaklukan, sehingga muncullah gambaran bahwa orang-orang India sebagai golongan yang menguasai Nusantara. Gambaran itu menganggap bahwa proses masuknya budaya India dipegang oleh golongan Prajurit atau kasta Ksatria. Dalam hal ini Bosch menyebut sebagai hipotesa ksatria.

N.J. Krom berpendapat bahwa golongan ksatria tidak sebesar golongan pedagang yang datang ke Indonesia, dan kemudian menetap di Nusantara dan memegang peranan dalam penyebaran pengaruh budaya melalui hubungan mereka dengan penguasa-penguasa di kepulauan Nusantara. Kemungkinan pula terjadi perkawinan dengan wanita Nusantara (Poerbatjaraka, 1952 ;viii), perkawinan ini menjadi pengaruh penting dalam penyebaran budaya. Karena pedagang adalah termasuk kasta vaisya, maka Bosch menyebutnya sebagai hipotesa Vaisya.

Hipotesa Krom berkesimpulan bahwa peranan budaya Indonesia dalam proses pembentukan budaya Indonesia-Hindhu sangat penting. Hal itu tidak mungkin dapat terjadi jika bangsa Indonesia hidup dibawah tekanan seperti yang digambarkan dalam hipotesa ksatria. Kedua pendapat Bosch maupun Krom kemudian dibantah oleh Van Leur, bahwa; sebuah kolonisasi melibatkan sebuah kemenangan dalam penaklukan oleh golongan ksatria. Catatan kemenangan atas penaklukan di Nusantara tidak pernah ada dalam catatan resmi di India. Demikian pula di Indonesia tidak didapati prasasti atau tanda peringatan apapun. Kecuali hal itu, setiap kolonisasi selalu diikuti dengan pemindahan segala unsur masyarakat dari tanah asal seperti; sistem kasta, seni, kerajinan, bentuk rumah, istiadat dsbnya.

Pada kenyataanya bahwa di Nusantara tak pernah ada budaya yang sama dengan di India. Kalaupun dianggap bahwa orang-orang India menetap di Nusantara tidak terjadi penyebaran secara perseorangan, mereka selalu menempati suatu kawasan tertentu, seperti halnya perkampuan Cina, perkampungan Arab, perkampungan India. Di beberapa tempat di Indonesia masih dijumpai adanya perkampungan Keling, yaitu suatu tempat dimana pada masa itu orang India bertempat tinggal.

Kedudukan mereka seperti layaknya rakyat biasa , mereka hanya melakukan kegiatan perdagangan saja. Pengaruh budaya yang dibawa oleh para pedagang ini oleh Van Leur dianggap tidak memiliki peranan yang dominan dalam mempengaruhi penguasa di Nusantara. Tetapi ia menambahkan bahwa peranan penyebaran budaya India dilakukan oleh tingkat Brahmana, dan mereka datang atas undangan para penguasa di Indonesia pada saat itu. Bukti arkeologis menunjukan bahwa pada abad V Masehi di Asia Tenggara maupun di semenanjung Melayu dari Indonesia bagian barat telah terdapat pusat-pusat kekuasaan Politik dengan taraf peng-India-an yang sama.

Kesimpulan bahwa dinegeri kepulauan ini telah berdiam jutaan tahun yang lalu masyarakat yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dengan kemampuan mereka menciptakan bahasa dan tulisan yang berlaku (dipahami) oleh masyarakat dibelahan dunia lain. Dengan melihat kemampuan mereka dalam menjelajah maka hanya dapat dilakukan oleh suatu masyarakat yang telah terorganisir (berpemerintahan) dengan baik dengan sistem manajemen modern yang dapat melakukan kendali atas semua aktivitas masyarakatnya. Lalu siapa mereka yang berkuasa memerintah jutaan tahun yang lalu dinegeri ini, apakah negeri ini lalu dikatakan tak bertuan sehingga anak-cucunya membuat nama negeri yang lain terlepas dari sejarah penguasa pendahulunya. Dari bahasa kita dapatkan bahasa yang disebut Aneksasi.


Sumber: Nusantara Historical Discovery
Dokumen - Komunitas Cahaya

Asal-usul dan Sejarah Kota Semarang

KOTA Semarang adalah Ibukota Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Pada posisi 1100.23’.57’.79”BT dan Lintang 60.55’.6” LS serta 60.58’18” LS. Sedangkan secara topografis Kota Semarang terdiri atas dua wilayah, yaitu wilayah atas, dan wilayah bawah. Wilayah atas adalah wilayah perbukitan yang memanjang dari timur ke barat di bagian selatan kota Semarang. Wilayah bawah adalah wilayah bentukan yang muncul karena peristiwa alluvial.1

Menurut Prof. Dr. Ir. R.W. Van Bamellen, geolog asal Belanda mengatakan, lebih kurang 500 tahun yang lalu keadaan kota Semarang jadi berbeda dengan sekarang. Dikala itu garis pantai masih jauh menjorok ke dalam hingga ke kaki bukit Gajahmungkur, Mugas, Mrican, Gunung Sawo Simongan dan bukit-bukit lain sekitarnya. Seiring dengan berjalannya waktu terjadilah pendangkalan dan endapan lumpur hingga timbullah suatu dataran baru yang kemudian hari dikenal sebagai kota bawah dari kota Semarang. Sebab itulah dikatakan unik dan indah karena terbagi dalam dua bagian yaitu bagian atas dan bagian bawah.2

Dengan kondisi geografis yang demikian, ada seorang isteri pejabat VOC, Meur B-P ( Nyonya B-P ) menyebut Semarang dengan, “een Oosterchs Venetie! Schimmen, glinstering,…bekoring!” ( sebuah Venesia dari negeri Timur—yang teduh, berkilauan…indah menawan! ).3

Ada beberapa pendapat dari para sejarawan mengenai asal-usul nama Semarang, yaitu ;
Berdasarkan penyelidikan sejarah yang dilakukan oleh C. Lekkerkerker dari Nederland Java en Bali Instituut,4 asal mula nama Semarang diambil dari perkataan Asem-Arang. Alasannya banyak nama-nama tempat di Indonesia dinamakan sesuai dengan keadaan dan kondisi daerah yang bersangkutan. Seperti halnya Banyumas berasal dari perkataan Banyu-Amis. Kemudian Salatiga berasal dari perkataan salah tiga. Konon ada tiga orang yang salah, yaitu merampok Ki Ageng Pandan Arang II dan isteri. Dalam perjalanannya menuju Gunung Jabalkat untuk “ber-‘uzlah” dari gemerlapnya harta duniawi atas perintah gurunya, Sunan Kalijaga.

Merujuk dari keterangan diatas, pada zaman dulu Semarang banyak ditumbuhi pohon asem yang keadaan daunnya jarang-jarang atau tidak nggempiok ( rimbun ). Maka tempat ini disebut Asem-Arang. Lama kelamaan untuk menggampangkan omongan berubah menjadi Semarang seperti sekarang.

Sejalan dengan pendapat Lekkerkerker, D. Van Hinloopen Labberton juga menunjukkan adanya tempat-tempat yang mempunyai nama dengan menggunkan kata-kata arang dan kerep, seperti Jatingarang, Pelemkerep, dan Gempolkerep.5

Menurut Raden Mas Ngabehi Tjokro Hadiwikromo, Semarang berasal dari perkataan Semaran atau Kasemaran. Yakni, nama kediaman resmi Kyai Ageng Kasemaran, nama lain Ki Ageng Pandan Arang. Karena beliau menikah dengan Endang Kasmaran alias Endang Sejanila.6 Perkataan Kasemaran sendiri kemudian diperpendek menjadi Semaran yang pada akhirnya berubah menjadi Semarang. Dikarenakan, orang-orang Belanda jika melafalkan an selalu berubah menjadi ang. Misalnya, ketika mengucapkan Palimanan menjadi Palimanang, Kopen menjadi Kopeng dan lain sebagainya.

J. Hageman Jcs menuliskan,7 pada tahun 1207 tahun Jawa ada dua orang Pangeran dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Raden Tanduran dan Siyung Wanara terlibat peperangan sengit di sebelah Barat Semarang. Tepatnya di Tugu Rejo (dahulu masih masuk dalam wilayah Kendal). Untuk mengenang peristiwa sekaligus mengakhiri Civil War8 itu, maka dibangunlah sebuah “monumen perjanjian” yang dinamakan Tugu. Dengan kesepakatan, tanah Jawa sebelah Timur dari tiang batu itu—dinamakan Majapahit—menjadi milik Raden Tanduran. Sedangkan tanah Jawa sebelah Baratnya—dinamakan Pajajaran—adalah milik penuh dari Siyung Wanara.

Hageman menyimpulkan, nama Semarang berasal dari Ka-Semaran dan Semaran, artinya kediaman Semar. Akan tetapi Hageman juga mempunyai pendapat lain. Menurutnya, Semarang justru berasal dari kata Harang—untuk yang lebih halusnya—orang menyebut dengan Arang. Yang berarti mahal atau jarang. Dalam bahasa Jawa Krama, nama Semarang disebut Semawis atau Samahawis. Berasal dari perkataan Hawis atau Awis, yang berarti sama mahal atau sama asing.

Dari beberapa pendapat diatas, yang lebih faktual adalah yang menyebutkan nama Semarang berasal dari kata-kata asem dan arang. Alasannya adalah :
Pertama, di kota Semarang dahulu kala banyak tumbuh pohon asam (sekarang pun masih bisa kita lihat meski hanya beberapa gelintir).

Kedua, khususnya di tanah Jawa, cukup banyak nama kota yang menggunakan asem sebagai nama awal. Yaitu, Asembagus (pondoknya Alm. Kyai As’ad di Situbondo), Asembawang dan Asemkandang (keduanya berada di Pasuruan), Asemgajah (dekat Juana), Asem Legi (±18 km dari Solo).

Ketiga, pemberian nama tempat dengan menggunakan nama pohon asam telah ada 10 abad yang silam. Berdasarkan prasasti yang dibuat atas perintah Raja Balitung. Berupa piagam tembaga bertahun 827 Saka (905 Masehi), menuturkan adanya sebuah desa Asampanjang (Pangurang I wka I sama lagi watak asampanjang—pangurang di Wka (Baka)—tuan Sanjat penduduk di Samalagi daerah Asampanjang). Drs. M. Soekarto menambahkan, desa tersebut sebenarnya masih ada, hanya saja telah berubah nama menjadi desa Sendawa, yang berasal dari kata-kata Asem-Dawa.9

Layaknya sebuah kota, minimal harus mempunyai empat unsur utama. Yaitu, ada wilayahnya, ada penduduknya, adanya pemerintahan dan kedaulatan (yakni kekuasaan tertinggi untuk mengatur pemerintahannya). Karenanya, lahirnya kota Semarang menjadi polemik tersendiri (berdasar pada saat kapan untuk pertama kalinya sebuah kota mempunyai empat unsur diatas sebagai sebuah totalitas).

Sebagaimana kita ketahui, yang dinamakan Semarang awalnya adalah daerah pegisikan (tempat tinggal Ki Ageng Pandan Arang dan santrinya). Meliputi daerah Bubakan sampai daerah Djurnatan hingga Kauman.10 Kapan tepatnya kota Semarang lahir masih menjadi perdebatan panjang, meski tanggal 2 Mei 1547 (bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 954 H) ditetapkan Pemkot Semarang sebagai Hari Jadi kota Semarang. Hal ini bertepatan dengan pengangkatan Ki Ageng Pandanaran II menjadi Adipati Semarang oleh kerajaan Demak.11

Menurut Raden Ngabehi Tjokro Hadiwikromo dalam buku “pakem” milik Raden Hadisapoetra menyatakan, Pangeran Pandan Arang I telah mendirikan Semarang pada tahun 1564 Jawa (1642 M). Pendapat ini sangat kontradiktif dengan tulisan Tome Pires (sejarawan berkebangsaan Portugis). Dalam Summa Oriental, (yang ditulis antara tahun 1512-1515 M di India dan Malaka) ia menyebutkan, Semarang telah lahir sebelum tahun 1515 M.12

Berdasarkan candra sengkala “Awak Terus Cahya Jati” yang terdapat dalam Serat Kanda edisi Brandes, kota Semarang lahir pada tahun 1398 Saka (tahun 1476 M).13 Diawali dengan kedatangan seorang pemuda di daerah Mugas Bergota (pada waktu itu masih merupakan pulau kecil, Pulau Tirang), bernama Ki Pandan Arang, yang mengemban tugas untuk meng-Islamkan penduduk di wilayah tersebut. Seiring bertambahnya waktu, pengikutnya semakin bertambah banyak. Hingga membentuk suatu pemukiman penduduk yang teratur dan misi tersebut membawa “suksesi” yang mengantarkan Ki Pandan Arang menjadi Bupati Semarang Pertama. Pusat pemerintahan pada waktu itu ditempatkan di Bubakan, daerah ini semakin pesat perkembangannya hingga meluas sampai ke daerah Djurnatan (sekitar Jl. KH. Agus Salim) dan Kandjengan. Pada akhirnya, Ki Ageng Pandan Arang14 disebut sebagai pendiri kota Semarang. Sedangkan Syeh Wali Lanang15 (karibnya, yang diutus oleh Sunan Bonang untuk meng-Islamkan Bethara Kathong, Bupati Ponorogo) merupakan pencipta nama kota Semarang.16

Pusat pemerintahan mengalami beberapa kali perpindahan. Setidaknya mulai tahun 1659 M di bawah pimpinan Bupati Mas Tumenggung Wongsoredjo. Yang dipindahkan ke daerah sekitar desa Gabahan (sekarang Kelurahan Gabahan). Kemudian oleh penggantinya, Bupati Mas Tumenggung Prawiroprodjo ditempatkan di Sekayu (sebelah selatan gedung GRIS). Pada tahun 1670 kembali dipindahkan ke daerah Kandjengan yang bertahan sampai tahun 1942.17

Masa pemerintahan Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun masa itu tidak dapat berlangsung lama karena, seusai menerima nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian. la melepaskan jabatannya, meninggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan melewati Salatiga dan Boyolali. Akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama Jabalkat di daerah Klaten. Didaerah ini, beliau menjadi seorang penyiar agama Islam dan menyatukan daerah Jawa Tengah bagian Selatan hingga bergelar Sunan Tembayat. Beliau wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Gunung Jabalkat.

Pengganti Bupati Pandan Arang II dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut18 :
1. Raden Ketib alias Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586).
2. Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
3. Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666)
4. Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
5. Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
6. Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung. Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)
7. Raden Martoyudo atau Raden Sumingrat (1743-1751)
8. Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadimenggolo (1751-1773)
9. Surohadimenggolo IV (1773-tidak diketahui)
10. Adipati Surohadimenggolo V atau Kanjeng Terboyo (Tidak Diketahui)
11. Raden Tumenggung Surohadiningrat (tidak diketahui-1841)

Pada waktu Pemerintahan RIS (Republik Indonesia Serikat), yaitu pada masa Pemerintahan Federal, diangkat Bupati RM.Condronegoro hingga tahun 1949. Sesudah pengakuan kedaulatan dari Belanda, jabatan Bupati diserah terimakan kepada M. Sumardjito. Penggantinya adalah R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956). Kedudukannya sebagai Bupati Semarang bukan lagi mengurusi kota, melainkan mengurusi kawasan luar kota Semarang. Hal ini terjadi sebagai akibat berkembangnya Semarang menjadi Kota Praja.

Pada tahun 1906, berdasarkan Stanblat (semacam Surat Keputusan) Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente (Kota Praja). Pemerintahan kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda. Berakhir pada tahun 1942 dengan datangnya penjajahan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico), yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia.
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintahan daerah Kota Semarang belum dapat menjalankan tugasnya, karena pendudukan Belanda. Tahun 1946, lnggris atas nama sekutu, menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tanggal l6 Mei 1946.

Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, Walikota Semarang sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15-20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan. Dimana pemuda-pemuda Semarang bertempur melawan pasukan Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Peristiwa ini dikenal dengan nama “Pertempuran Lima Hari di Semarang”.

Selama masa pendudukan Belanda, tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. Daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba, berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan, harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. Tanggal 1 April 1950, Mayor Suhardi Komandan KMKB menyerahkan tampuk pimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, pejabat tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta.

Beliau menyusun kembali aparat pemerintah guna memperlancar jalannya pemerintahan. Kondisi kota Semarang di bawah kolonialisme Belanda memang cukup pesat perkembangannya. Dengan dibangunnya berbagai fasilitas untuk kepentingan Belanda. Misalnya, sarana dan prasarana perkotaan seperti jalan, transportasi kereta api, pasar-pasar dan sebagainya. Bahkan, tanggal 16 Juni 1864 dibangun rel pertama di Indonesia. Dimulai dari Semarang menuju kota Solo dan Kedungjati, Surabaya dan ke Magelang serta Yogyakarta. Kemudian dibangun dua stasiun kereta api yang masih ada hingga sekarang, yaitu Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol. Sedangkan perusahaan (kalau sekarang PJKA) yang mengelolanya adalah Nederlandsch Indische Spoorwagen (NIS) berkantor di

Gedung Lawangsewu. Kemudian , pada tahun 1875 Pelabuhan Laut Semarang (sekarang bernama Pelabuhan Tanjung Emas) sejak zaman dahulu (zaman Ki Ageng Pandan Arang I bernaman Pelabuhan Bergota) telah ramai, dibangun dengan fasilitas yang lebih memadai. Supaya kapal-kapal berbagai ukuran, baik kapal barang maupun kapal penumpang bisa bersandar.

Ditengah hiruk pikuk perniagaan antar-bangsa, sekalipun dalam suasana penjajahan Belanda, agama Islam tetap berkembang. Sebagai dampak bertemunya para pendatang yang membawa kebudayaan masing-masing. Seperti bangsa Cina, Arab, India dan Belanda serta orang Jawa (Semarang) selaku “tuan rumah”.19 Hingga melahirkan tradisi Dugderan20 pada masa pemerintahan Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat tahun 1891 guna menandai dimulainya bulan suci Ramadhan.

Sejak tahun 1945 para Walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut21 :
1. Mr. Moch.lchsan
2. Mr. Koesoebiyono (1949 - 1 Juli 1951)
3. RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo (1 Juli 1951-1 Januari 1958)
4. Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari 1958-1 Januari 1960)
5. RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari 1961-26 April 1964)
6. Mr. Wuryanto (25 April 1964-1 September 1966)
7. Letkol. Soeparno (1September 1966-6 Maret 1967)
8. Letkol. R.Warsito Soegiarto (6 Maret 1967-2 Januari 1973)
9. Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973-15 Januari 1980)
10. Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH (15 Januari 1980-19 Januari 1990)
11. Kolonel H.Soetrisno Suharto (19Januari 1990-19 Januari 2000)
12. H. Sukawi Sutarip SH. MM. (19 Januari 2000-19 Januari 2005)
13. Soemarmo Hs (2005 – 2010)
14. Hendrar Prihadi (21 Oktober 2013 – 2010)


Sumber Bacaan:
1 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Tandjung Sari, Semarang, Jilid I, 1978, hlm. 1
2 Jongkie Tio, Kota Semarang Dalam Kenangan, ttp, tth, hlm. 7
3 Amen Budiman, Semarang Juwita, Semarang Tempo Doeloe, Semarang Masa Kini Dalam Rekaman Kamera, Tandjung Sari, Semarang, Jilid I, 1979, hlm. 1
4 Liem Thian Joe, Riwayat Semarang : Dari Djamanja Sam Po sampe Terhapoesnja Kongkoan, Boekhandel-Ho Kim Yoe, Semarang-Batavia, Tjitakan Pertama, 1933, hlm. 2
5 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu…………, op. cit., hlm. 81
6 Ibid.
7 Ibid., hlm. 82-83
8 Orang-orang jaman dulu menyebut perang saudara antara dua pangeran kerajaan Pajajaran tersebut dengan sama perang artinya perang bersama, dikemudian hari ternyata orang-orang telah menghilangkan huruf p dalam kata-kata sama perang itu, hingga pada akhirnya lahirlah nama Semarang dan bukannya Sammerang atau Samrang.
9 Berdasarkan keterangan dari gubahan Serat Kandaning Ringgit Purwa naskah KBG Nr. 7, Serat Kanda terjemahan dalam bahasa Belanda naskah KBG Nr. 405 dan 540, Serat Wali Sana naskah KBG Nr. 1022, Babad Nagri Semarang dan Naskah Het Noorden. Ibid., hlm. 83
10 Pegisikan yakni sebuah kawasan yang terletak ditepi pantai.
11 Jongkie Tio, op.cit., hlm. 10
12 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu…, op. cit., hlm. 86
13 Ibid., hlm. 89
14 Dikenal juga dengan sebutan Kyai Pandanaran, Ki Gede Semarang, atau Maulana Ibnu Abdullah ada yang menyebutnya sebagai cucu dari Raden Patah, putra dari Pangeran Sabrang Lor/Adipati Unus (Serat Kanda edisi Brandes), atau sebagai putra Sunan Ampel (Serat Tjandrakanta), serta seorang Maulana dari negeri Arab (Serat Kanda dalam bahasa Belanda naskah KBG Nr.540/Babad Tanah Jawi edisi van Dorp).
15 Terkenal dengan sebutan Maulana Alus Islam, Syeh Waliyul Islam, ataupun Ibnu Jumadil Kubra adalah adik kandung Syeh Wali Lanang—ayah Sunan Giri—merupakan putra dari Syeh Jumadil Kubra, adalah seorang ulama dari negeri Campa (Serat Wali Sana naskah KBG Nr.1022 ab).
16 Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu…….., op.cit., hlm. 91
17 Pendopo dan halaman luas nan indah, disertai aloon-aloonnya yang luas kini telah musnah “berubah” menjadi pusat pertokoan. Padahal menurut “master-plan” pemerintahan waktu itu pendopo tersebut akan direlokasikan ke Tembalang, namun keburu terkena terjangan angin puyuh. Lihat Jongkie Tio, Kota Semarang…….., op.cit., hlm.10
18 Lihat http//www.Semarang.go.id/Semarangtempodoeloe.
12. Putro Surohadimenggolo (1841-1855)
13. Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860)
14. RTP Suryokusumo (1860-1887)
15. RTP Reksodirjo (1887-1891)
16. RMTA Purbaningrat (1891-tidak diketahui)
17. Raden Cokrodipuro (tidak diketahui-1927)
18. RM Soebiyono (1897-1927)
19. RM Amin Suyitno (1927-1942)
20. RMAA Sukarman Martohadinegoro (1942-1945)
21. R.Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945) hanya berlangsung satu bulan.
22. M. Soemardjito Priyohadisubroto (Tahun 1946, 1949-1952 yaitu masa Pemerintahan Republik Indonesia).
19 Sebagaimana penulis jelaskan di bagian lain pada bab ini, Semarang menjadi sebuah “fasilitator” bertemunya para pendatang yang mayoritas beragama Islam (terkecuali dari Eropa) dimulai sejak kedatangan armada Cheng Ho pada abad XV, maka gelombang para Imigran makin “menyerbu” Semarang dan yang paling menonjol adalah mereka (Cina-Jawa) yang “tertampung” dalam Sino Javanese Muslim Culture.
20 Dugderan berasal dari kata dug (yang merupakan bunyi bedug) dan der (yang merupakan bunyi meriam) sebuah “hajatan” rakyat Semarang sebagai tanda dimulainya bulan Ramadhan dengan mainan khasnya berupa Warak Ngendog dan telah menjadi agenda tahunan Pemkot Semarang hingga saat ini.
21 Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan Humas Pemkot Semarang pada tanggal 27 Januari 2005.


Dokumen – Komunitas Cahaya

Kajian