Select Menu

clean-5

Kabar Komunitas Cahaya

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Surat Cinta untuk Gubernur Ganjar Pranowo, Polrestabes, FPI, Pemuda Pancasila, Laskar Merah Putih, Mapenab dan Pak RT

Surat Cinta untuk Siapa?
Untuk mereka yang membungkam nurani dan pikiran

KESADARAN terhadap kemerdekaan bangsa dan negara muncul ketika para pemuda Indonesia yang mengenyam pendidikan di Belanda menyadari betapa penting arti sebuah kemerdekaan. Pada saat terjadi gejolak dalam masyarakat Indonesia untuk merintis kemerdekaan inilah muncul dua brosur dari Tan Malaka yang selanjutnya menjadi panduan pergerakan para founding fathers Indonesia. Kedua buku kecil (brosur) itu diberi judul Naar De Republik Indonesia (NDRI) dan Massa Actie (MA), keduanya di tulis di luar negeri dengan bahasa Belanda, karena sasaran pembacanya ditujukan pada kaum terpelajar yang banyak mengenyam pendidikan di Belanda.

Kami dari Komunitas Cahaya - Rumah Cahaya yang berusaha ingin sesuai harapan yakni selalu berharap "Mengabdi dan Mengkaji." Sangat menyayangkan atas sikap-sikap yang kurang baik demi kemajuan bangsa Indonesia Tercinta. Ketika para pemuda menginginkan sebuah rutinitas Intelektual, namun dibatasi sikap pesimisme para pemangku kepentingan.

Hal ini kami dapatkan dari Informasi kawan-kawan yang ingin mengelar Diskusi Tentang Tan Malaka. Mereka adalah kaum intelektual yang perlu diberikan aspresiasi. Komunitas Hysteria, Kelompok Pengiat Sejarah yang akan mengadakan diskusi buku Tan Malaka di Grobak Art Kos, Jl Stonen no 29, Bendan Ngisor, Gajah Mungkur, Semarang. Acara akan dilaksanakan besok pada tanggal 17 februari 2014, jam 19.30 Wib sampai selesai dengan mendatangakan pembicara Harry A. Poeze.

Jika founding fathers Indonesia saja belajar dan berteman baik dengan Tan Malaka, mengapa kami para pemuda yang akan menjadi pewaris negeri tercinta harus terbatasi oleh ruang belajar.

Mereka tidak tahu tentang Tan Malaka. Jika mereka berangapan Tan Malaka adalah komunis, itulah pikiran yang picik. Bangsa kita adalah bangsa bibit unggul, jika ada sosok Tan Malaka yang cara berfikirnya menonjolkan sisi Marxisme, tapi Tan Malaka bukanlah tipe plagiator (epigon) yang mengadopsi begitu saja setiap ajaran-ajaran Marxis-Leninis, filsafat politiknya (ideologi) kental dengan nuansa nasionalisme.

Sebagai bangsa bibit unggul selayaknya kita harus mengerti PENGETAHUAN orang-orang penghuni negara bibit unggul LEBIH HEBAT dari cara berfikir orang-orang yang MENOLAK DISKUSI TAN MALAKA.

Kami akan melahirakan Tan Malaka - Tan Malaka baru di negeri bibit unggul ini.



Komunitas Cahaya - Rumah Cahaya

Lukni Maulana
(Pengasuh Komunitas Cahaya dan Ketua Takmir Masjid Ar-Rasyid Genuk Semarang)

Ahmadun Yosi Herfanda Akan Kembalikan Honor Puisi - Esai Denny JA

SETELAH membuat pernyataan penyesalan (Baca: Penyesalan Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda Puisi Esai Denny JA). Kini Ahmadun Yosi Herfanda membuta pernyataan persoalan honor Puisi - Esai Denny Ja dan ia akan mengembalikan honor tersebut.

Berikut ini isi lengkap pernyataan Ahmadun Yosi Herfanda;

SAYA AKAN KEMBALIKAN HONOR KE DENNY JA

Salam sastra.

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, sebagai penyempurna dan konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” (ikut menulis puisi esai pesanan) itu hari ini saya akan mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta kepada Denny JA. Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan “uang subhat” itu. Semoga dengan kerendahan hati pula Denny JA berkenan menerimanya kembali.

Dengan pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama puisi-puisi esai yang lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya. Lha wong sudah terlanjur dicetak. Yang penting, bagi saya pribadi, saya sudah jujur dengan suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu.

Perlu saya tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari kekhilafan, hanya ini yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” Denny JA.

Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat "politik puisi esai" itu. Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun, memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau sepahit apapun.”

Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama, karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT meridloi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam wrwb. * ahmadun yosi herfanda

Penyesalan Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda Tentang Puisi - Esai Denny JA

SASTRAWAN Ahmadun Yosi Herfanda menyesali keikut sertaanya dalam proyek sastra Puisi - Esai oleh bos besar Lingkar Survai Indonesia (LSI) Denny JA. Selain pernyataan penyesalan Ahmadun Yosi Herfanda juga akan mengembalikan honor Rp. 10 juta tersebut. Baca selengkapnya juga di: "Saya akan kembalikan Honor Ke Denny JA"

Berikut pernyataan lengkap pengakuan Ahmadun Yosi Herfanda yang diberi judul "Saya Menyesal Ikut Menulis Puisi Esai":

Saya Menyesal Ikut Menulis Puisi Esai

Saya sangat malu dan menyesal ikut menuruti "pesanan" Denny JA lewat Fatin Hamama untuk menulis puisi esai. Sebab, menulis puisi esai bukanlah pilihan hati nurani saya sebagai penyair, tapi lebih karena pesanan dan godaan honor yang besar. Saya menyesal, karena telah menulis puisi esai hanya demi uang suatu orientasi penciptaan atau motivasi yang rendah dalam bersastra.

Semula sebenarnya saya sempat menolak keras ketika diminta Dennya JA lewat Fatin Hamama untuk menulis puisi esai, karena sudah mencium bakal adanya politisasi sastra dengan gelagat yang kurang sehat. Selain itu, dengan memenuhi pesanan puisi jenis WOT (wrote on demand) ditulis berdasarkan pesanan -- itu sama saja dengan "melacurkan diri" dalam sastra.

Saya sempat berdebat keras dengan Fatin di Tamini Square, disaksikan Mustafa Ismail, Remy Novaris DM, dan Dad Murniah, dan sampai akhir pertemuan saya tetap bersikeras menolak pesanan itu. Tapi, Fatin terus merajuk, dan rajukannya terus berlanjut lewat sms sampai saya pulang. Sialnya, sekitar dua hari kemudian, saya terdesak kebutuhan dana sosial (ya beginilah nasib penyair, sering kekurangan uang untuk mememuhi kebutuhan mendadak).

Akhirnya, karena perlu dana mendesak, tawaran Denny lewat Fatin itu saya jawab dengan lebih lunak,"Oke saya akan tulis puisi esai, asal honornya Rp 10 juta."

Setelah sempat tawar menawar (mirip pelacur ditawar lelaki hidung belang lewat mucikari ) akhirnya Denny sepakat membayar puisi esai saya Rp 10 juta. "Yah, sesekali tak apalah jadi pelacur sastra asal pelacur yang mahal," pikir saya. "Kan hebat, satu puisi dibayar 10 juta.... He he he.

Ternyara dugaan saya benar. Denny JA kini mulai mempolitisasi puisi esai karya 23 penyair Indonesia penerima pesanan itu yang akan segera diterbitkan (termasuk karya saya, Isbedy Stiawan ZS, Agus Nur, Sujiwo Tejo, Zawawi Imron, Kurnia Effendi, Fatin Hamama, Sihar Ramses Simatupang, Dad Murniah, dan Chavcay Syaifullah).

Ada kesan kuat, bahwa Denny ingin menempatkan kami sebagai para pengikutnya dalam mazhab puisi esai yang diklaim sebagai idenya untuk memperkuat politik sastra Tim 8 yang menempatkan Denny sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh dan mengundang kontroversi.

Tapi, nanti dulu. Denny jangan berbangga dulu. Kami, 23 penyair itu tak bisa begitu saja diklaim sebagai pengikut Denny. Sebab, banyak di antara kami (bahkan mungkin semuanya) yang menulis puisi esai itu bukan atas keinginan kami sendiri, bukan pilihan hati nurani, tapi karena "dipesan".

Sebagai konsultan politik yang hebat, Denny pasti dapat membedakan antara "pengikut" dan "pekerja kreatif" yang melayani order karya. Pengikut itu mengikuti sesuatu sebagai pilihan hati, bukan karena pesanan. Jadi, kami bukanlah pengikut "mazhab puisi esai", tapi hanya sekali itu menempatkan diri sebagai "pekerja kreatif" yang melayani pesanan "puisi esai" Denny JA lewat Fatin Hamama.

Kalau kemudian dipolitisir dan dikesankan sebagai pengikut "mazhab puisi esai", itu saya kira model politisasi sastra yang bodoh dan murahan, yang sangat tidak patut dilakukan oleh seorang konsultan politik yang hebat. Itu adalah pembodohan publik yang dilakukan secara bodoh pula.

Jadi, setidaknya sudah dua kali Denny, ataupun "tim sukses" Denny, melakukan pembodohan terhadap publik sastra Indonesia. Pertama, penempatan dia sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh. Kedua, pencitraan terhadap 23 penyair (kami) sebagai pengikut mazhab puisi esai. Itu sungguh "kejahatan sastra" yang sulit dimaafkan. Denny dan "tim sukses"nya harus bertobat dan meminta maaf pada publik sastra Indonesia.

Melalui media sosial ini, kepada publik sastra Indonesia, dengan tulus saya mengaku "bertobat", meminta maaf, dan menyesal sedalam-dalamnya telah tergoda untuk ikut menulis puisi esai hanya demi uang Rp 10 juta. Betapa murahnya, "prinsip estetik" yang sudah 30 tahun lebih saya perjuangkan dan pertahankan, saya gadaikan begitu saja untuk puisi esai sehingga saya menjadi korban politik sastra abal-abal.

Kepada Allah SWT saya juga mohon ampun, karena tidak mau mendengar suara hati nurani saya sendiri, yang saya yakin berasal dari-Nya. Saya akan kembali pada niat awal, bahwa menulis puisi adalah "ibadah kreatif" seperti tercermin pada puisi "Sembahyang Rumputan" saya, dan sekali-kali bukan karena uang. Memang boleh-boleh saja dari menulis puisi itu kita menerima uang sebagai honor, termasuk honor yang besar sebagai penghargaan bagi kerja kreatif kita. Tapi, itu bagi saya bukanlah tujuan utama, apalagi dengan menggadaikan prinsip dan idealisme kesastraan.

Ya Allah, ampunilah kekhilafan saya, dan kekhilafan sahabat-sahabat saya yang sempat tergoda oleh iming-iming uang besar dari dajjal sastra itu dajjal adalah mahluk dalam mitologi Islam yang mencari pengikut dengan iming-iming minuman segar di bawah terik matahari (bisa berupa iming-iming uang di tengah kemiskinan). Ya Allah, kembalikanlah sahabat-sahabat saya itu, termasuk sahabat-sahabat saya dalam Tim 8, ke jalan sastra yang lurus, jalan sastra yang Engkau ridloi, dengan lindungan kekuatanMu. Amin! * ahmadun yosi herfanda.

Shinta ArDjahrie Pengabdi dan Pejuang Kemanusiaan


CAHAYA -Rombongan dari Lazis Mafaza Peduli Ummat Purwokerto yang hendak memberi bantuan mengalami kecelakaan di Larangan Kabupaten Brebes, Kamis (24/1) malam.

Mobil Carry berpenumpang lima orang yang membawa bantuan kemanusiaan, mengalami selip dan mencebur ke dalam sungai yang ada di samping jalan. Akibat kecelakaan itu, seorang meninggal dan seorang lagi mengalami luka berat.

''Mereka berangkat dari kantor Lazis di komplek Masjid Fatimatuzzahra, Grendeng, Purwokerto sekitar pukul 20.30. Sedangkan kejadiannya sekitar pukul 23.30,'' jelas Ketua Lazis Mafaza, Hidayat, Jumat (25/1).

Dia menyebutkan, korban yang meninggal adalah Shinta Ardjahrie (23), manajer Program Mafazza yang juga mahasiswi semester akhir Fakultas Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Sedangkan korban luka, Mugi (18), saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Harapan Anda Kota Tegal, karena paru-parunya terisi air. ''Tiga penumpang lainnya, alhamdulillah hanya luka ringan dan hanya berobat jalan,'' katanya.

Menurut Hidayat, rombongan yang dipimpin Shinta, warga Panggung Kota Tegal, rencananya akan menuju Subang, Jawa Barat, untuk membantu korban banjir di wilayah itu.

Untuk itu, mereka juga membawa barang bantuan berupa 20 karton mie instan, uang tunai senilai Rp 5 juta, obat-obatan dan dua tangki alat semprot.

''Mereka rencananya akan berada di Subang selama sepekan, untuk membantu korban banjir,'' katanya. Sedangkan alat semprot dibawa, untuk menyemprot desinfekstan ke masjid-masjid atau mushalla bila banjir sudah surut.

Namun saat mencapai Desa Larangan Kabupaten Brebes, mobil mengalami selip hingga kemudian masuk ke dalam sungai di samping jalan yang sedang meluap. Menurut Hidayat, warga setempat yang mengetahui kejadian tersebut, sempat memberi pertolongan. ''Namun mungkin karena posisi Mbak Shinta terjepit, sehingga pertolongan yang dilakukan agak sulit. Saat tubuhnya berhasil di angkat ke permukaan, korban sudah meninggal,'' jelasnya.

Jenazah Shinta, menurut Hidayat, sudah diserahkan pada keluarganya dan dimakamkan di kampung halamannya di Kelurahan Panggung Kota Tegal. ''Almarhumah dimakamkan Jumat siang,'' jelasnya.

Sumber - http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/wakaf/14/01/25/mzxfkq-rombongan-relawan-alami-kecelakaan-seorang-meninggal 

Shinta ArDjahrie Sang Pejuang Kemanusiaa
Shinta ArDjahrie merupakan sosok Pejuang Kemanusiaan yang mengabdikan dirinya untuk selalu berjuang. Di akun Twiternya seharunya pada hari sabtu dan Minggu tanggal 25-26 Januari 2014 berkeinginan untuk baca puisi duet atau kalborasi dengan Pengasuh Komunitas Cahaya Lukni Maulana.

Diakun Twitternya ia sempat mengetwet:
"Suruh milih brngkt ke lokasi banjir atau ikut acra baca puisi?! Doanya semoga dapet acara dua2nya. Aamiin."

Diusinya yang masih muda, selayaknya ia menjadi inspirasi kita bersama. Atas nama keluarga besar Komunitas Cahaya mengucapkan belasungkawa semoga Allah memberikan tempat terindah.


Semarang Banjir Curah Hujan Semakin Tinggi

CAHAYA - Sudah beberapa hari ini hujan terus menguyur Kota Semarang yang menyebabkan beberapa wilayah di Semarang terendam air dan banjir semakin meluas dan bahkan mengakibatkan tanah longsor.

Malam hari Jum'at (24/1) hujan juga terus menguyur dan curah hujan yang semakin tinggi menyebabkan genangan air banjir semakin tinggi dan meluas.

Banjir yang melanda ini menyebabkan beberapa aktifitas perekonomian terhenti, khususnya daerah yang berdekatan dengan aliran air dan sungai-sungai, begitupun juga dengan para PKL tidak bisa menjajakan dagangannya.

Selain banjir, tanah longsor menjadi bencana yang harus diwaspadai seperti yang terjadi di Perum Trangkil Sejahtera Rt 3 Rw 10 Blog B Sukorejo Gunungpati, tujuh rumah ambruk oleh karena pondasi bangunan tergerus longsor. Menurut pengakuan warga, longsoran tanah berangsur, Kamis (23/1) dini hari mulai pukul 03.00 sampai pukul 09.00 WIB.

Sementara itu untuk akses ke Komunitas Cahaya didaerah Genuk, semakin terganggu karena kawasan seperti Kaligawe banjir semakin tinggi mencapai 1 meter lebih. Sedangkan akses menuju Pedurungan melalui Genuk yang lewat wilayah Banganom maupun Tanggulangin banjir mencapai 80 centimeter.

Rois Aam PBNU KH. Sahal Mahfudh Wafat

CAHAYA - KH. Sahal Mahfudh yang biasa dikenal dengan panggilan Mbah Sahal, wafat pada Jum'at (24/1) dini hari sekitar pukul 01.00 Wib di kediamannya Komplek pesantren Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Rais Aam PBNU sebelumnya beberapa kali melakukan perawatan di Rumah Sakit. Di pagi hari Jum'at berkah ini semoga arwah kiai karismatik ini mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.

Menurut sekretaris pribadi Mbah Sahal, Muhammad Najib, rencana akan dimakankan di Kajen pada jum'at pagi.

Bagi warga yang hendak bertakziah atau mensholati jenazah di Pati, sebaiknya melewati sejumlah jalur alternatif lantaran bencana banjir yang menimpa jalan Pantura. "Kalau dari Semarang dan Demak lebih baik lewat Purwodadi, sedangkan dari Surabaya lebih baik lewat Bojonegoro atau Cepu," tutur Najib

Kajian