Select Menu

clean-5

Kabar Komunitas Cahaya

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Sajak Rindu Aku – Puisi Artvelo Sugiarto

Oleh: Artvelo Sugiarto *

Aku

akulah si bangsat itu
yang memburumu dengan belati di tangan
berlari menyeberangi padang luka
sembunyi di balik semak dendam
esok adalah malam purnama
pada altar aku persembahkan
lidahmu yang menjulur panjang
dengan belati berkarat menancap
agar bisa engkau rasakan
bagaimana pedihnya luka yang begitu memanjang
akulah si bangsat itu
ketika engkau bertanya
siapa tabuh genderang perang
ya...
aku si bangsat itu

Semarang 16-maret-2014


Kepada diri

hidup tak semestinya bertanya
atau sekedar menunggu jawab
jika hidup hanya sekedar selesaikan tugas
apa arti kata ya dan tidak
hidup sekedar menunggu kereta jemputan yang
setia berhenti di setiap peron
dan mengantarnya
entah ke sorga
entah neraka

tidakkah kita mengerti
bagai mana kita harus menjalaninya
dimana kita selalu dinanti
dan kereta tak pernah mengerti
namun selalu setia menunggu hingga waktumu
yang tinggal sebatas tungku
lihatlah betapa warna kita lalui
namun nafas juga tak henti
di saat kita memaki atau sekedar memuji
agar harga diri tetap berdiri tegak di kaki sendiri

jika hidup hanya sekedar menjalankan tugas
tak perlu kita busung diri
mari menunduk dan mengantri
menaiki kereta yang tengah menanti
mengantar kita pergi..
mari......

Semarang 5-1-2014


Sajak Rindu

jika rindu tak sampai di relung
buat apa aku berharap pada angin
yang membawa kabar
ketika anak kangen menyelinap  di antara mimpi
bayangmu selalu  memburu sepi di nafasku

meggulung desah di nikmat asmara
kala melepas kangen bersama
engkau dan aku takkan habis di panas bara
terus menggelora di luas samodera cinta

Semarang,15-1-2014



* Artvelo Sugiarto - Aktif menulis Puisi dan Membacakan puisi On Air di RRI Semarang bersama Kumandang Sasrta. Penyair berambut panjang ini tinggal di Demak.

Penjarah Berwajah Pongah - Puisi Bambang Eka Prasetya

Oleh: Bambang Eka Prasetya *

PENJARAH BERWAJAH PONGAH

Saudagar hitam bertopeng kelam mengendus jejak kala silam
Tak henti menggaruk-garuk seraya berharap merengkuh manikam
Sorot mata aneh bercahaya kelam mengendap di ujung malam
Tak gentar akan tegur sapa suara, semuanya telah membisu-bungkam

Tak satu jengkalpun di antara bongkah warisan terlewat tersisa
Dari cengkeraman tangan-tangan bergelimang asa murka
Seringai bangga berlumur jiwa pongah tak henti menepuk dada
Saudagar hitam bertopeng kelam menjelma untaian tirani kuasa

Saudagar hitam bertopeng kelam berbusung dada sontak berteriak
Seirama dengan para “centheng” dan badut-badut menggelegak
Di sini kami mengemas kirana emas bertahta permata berbagai corak
Tergeletak di samping wajah peradaban bangsa yang terkoyak

Tak henti berkilah keindahan itu ada, karena ada keburukan
Maka setiap jejak selalu berawal rangkaian rencana penuh keburukan
Mengedepankan bujuk sepihak kebaikan ada, karena ada kejahatan
Setiap yang diraih diperikan pasti berlipat ganda dengan kejahatan

Saudagar hitam bertopeng kelam terngiang
Nada-nada yang teruntai saling bertentangan
Yang ada di depan dan yang di belakang
Semua saling berkaitan

JANJI MUSIMAN
: Catatan Kelam Pesta Demokrasi


Kepura-puraan menggelincir mengalir mewujud berbagai rupa
Pura-pura memahami si miskin yang gelisah sepanjang masa
Berbicara tentang musim dan cakap prediksi cuaca
Mengumbar pengharapan panen raya segera tiba

Nelayan-nelayan miskin merana di sepanjang pantai gersang
Tak luput sentuhan gelombang obral janji calon penguasa
Mengarungi samudra, melaju bersahabat dengan gelombang pasang
Adalah alun perjuangan menyambut kehidupan nan sejahtera

Dari mimbar petualang kuasa sesumbar dengan mulut berbuih
Menjual kemiskinan sebagai jalan merebut pundi-pundi kuasa
Para petani di seluruh pelosok desa tetap akrab dengan kisah sedih
Para nelayan pulang melaut pun berkalang sederet kisah sengsara

Kepada petani, nelayan, buruh serta para miskin tertindas
Melangkah tanpa mengharap sesuatu apapun yang kau retas
Tak terjerembab dalam meraih yang belum pasti bernas
Akan menghindari kekecewaan dan harapan walau sekilas

Lepas harap walau petualang berucap
: “Ini pesta demokrasi kawan.”


REINKARNASI BATARA KALA

Cerita angkara murka senantiasa mengemuka
Bergulir menerjang dan siapa saja bisa berbuat nista
Di desa dan di kota, bahkan merambah sudut-sudut istana
Birokrat Nusantara menjelma pagar pemangsa
Kolusi dan korupsi di negeri kami tak kunjung sirna

Engkau kah Batara Kala
Putra Sang Hyang Manik Maya
Yang terlahir dari kama tertumpah muspra
Larung dalam samudra menyelinap angkasa
Menitis dalam nyawa para penyelenggara negara

Birahi nafsu Batara Guru tumbuh liar dalam raga mereka
Mencumbu bencana menghardik kemakmuran bangsa
Nafsu serakah akan tahta serta harta
Menggelora pada dinding dada para punggawa
Luluh-lantakkan cita-cita negeri merdeka

Batara Kala penuntun nafsu angkara murka
Sudahilah hasrat menjelma dalam diri anak bangsa
Kami tak berharap langgengkan nestapa
Sudahilah hasrat membawa bencana
Ini negeri bangsa merdeka, sejahtera dan bahagia

(Puisi Menolak Korupsi Jilid 2-A, Forum Sastra Surakarta, 2013, halaman 167)




* Bambang Eka Prasetya, M.M, Penyair Baret Miring ini kelahiran Kepanjen, Jombang Jawa Timur, 5 Desember 1952. Anak pertama pasangan seniman ludruk Cak Ngarman dan Ismi Hajati. Pendidikan formal pertama diselesaikan di SD Negeri Widodaren II Kedungdoro Surabaya, lulus tahun 1965, sementara pendidikan formal terakhir diselesaikan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Panca Setia Banjarmasin, lulus tahun 2009.

Karya yang terdokumentasi antara lain: “Tabur Bunga Penyair Indonesia dalam Seperempat Abad Haul Bung Karno”, (Lingkar Sastra Blitar, 1995). Antologi Puisi Penyair Jawa Tengah dalam Pasar Puisi “Jentera Terkasa” (Taman Budaya Jawa Tengah, 1998). “Perempuan Memandang Dunia Global” (Non Fiksi, Editor), Alumni PXM Jakarta, 2003, Antologi “Tanah Air Cinta” (Nittramaya Magelang, 2012), Antologi Puisi “Dari Sragen Memandang Indonesia”, Dewan Kesenian Daerah Sragen, 20012, Antologi “Puisi Menolak Korupsi” Jilid I dan Jilid 2 (Komunitas Sastra Surakarta, 2013), Antologi Mengenang Gus Dur “Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel”, Dewan Kesenian Daerah Kudus, 2013, Antologi “Tadarus Rembulan”, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Banjarbaru 2013, Antologi “Langkah Kita”, Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta, 2013, Antologi “Habis Gelap Terbitlah Sajak”, Forum Sastra Surakarta, 2013. Antologi “Kemilau Mutiara Januari’, Sembilan Mutiara, Trenggalek, 2014.
Alamat penulis Pandansari Utara 24 RT 07 RW 10, Sumberrejo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang 56172. Kontak Pribadi: Telepon Selular: +6281392521979, email: bambangeka1952@gmail.com

Sajak Telaga Cahaya - Puisi Basa Basuki

Oleh: Basa Basuki *
- Basa Al-Kalam –

TELAGA CAHAYA
: haudhi nm
abah akan ajarkan membaca + menulis
puisi yang tidak berhuruf dan tidak bersuara
puisi sesegar air telaga
puisi seterang sinar cahaya
masuklah ke dalam titik di dalam titik

2014
 ~ Taman Rajawali, Basa Basuki ~


MATI YANG MENARIK
: Goenawan Mohamad

Perahu waktu yang dikemudikan syahadat
mengarungi laut lembut orkestra nafas
empat malaikat bermata rembulan
kencana memimpin jalan

Perahu waktu yang berlayarkan sholawat
menyebrangi samodra simphoni cahaya rahasia
empat malaikat bertangan sutra
menjemput kekasih pulang

2014
Taman Rajawali, Basa Basuki.

Nb. Intertekstualitas puisi "Yang Tak Menarik Dari Mati"
karya Goenawan Mohamad, Redaktur Emeritus Majalah Tempo,
Pujangga Kontemporer.


* Basa Basuki - Memiliki nama pena Basa Al-Kalam. Pengiat Komunitas Cahaya. Pernah belajar di Fakultas Sastra UNDIP Semarang dan Jebolan Teater EMKA. Kini menjadi santri dan menyendiri di ruang sunyi. FB: Basa Al-Kalam

Sajak Rembulan Empat - Puisi Arieyoko

Oleh: Arieyoko *

sajak rembulan empat

marilah kita selesaikan
semua hiruk pikuk malam ini
pada saku celana yang tak bakal
sama dan jas hujan yang beda
besaran kantungnya

kita habiskan arak desa
sembari cekikikan tertawa tertiwi
menonton sinden yang melorot
kembennya dan meloncat gumpalan
kendur dadanya

atawa kita pergi saja ke kota
menyaksikan segala tarian anak-anak
muda yang berkelamin rupa-rupa

bukan soal siapa penyulutnya
atawa kenapa musti disulutinya
itu hanya basa-basi. Kita lupakan
saja usul dan asal kita

tanah kita memang telah beda
sejak awalnya, jadi siapa saja
diizinkan mengucap neraka
dan sorga bersama-sama

sudahlah, mari kita selesaikan
semuanya tanpa kata-kata
toh kata-kata telah menjadi
bacin semua

.
-------------------------------
*sajak rembulan empat
7 Februari 2014


Trilogi Kelud

yen Kelud mbledos
Blitar dadi latar
Kediri dadi kali
Tulungagung dadi kedhung

Gusti sedaya sumarah panjenengan,
smoga tidaklah demikian kali ini

------------------------
*status Jum'at Wage,
14022014


Edisi Pijet
.
::

Pemimpin itu dilahirkan
Politikus itu diajarkan

Sistem Pemilu ini hanya mencari Politikus
yang kemudian dijadikan Pemimpin

.
_____________
*edisi pijet
130214


.
::
.
::

njeblug ning aja dadi pageblug
isa kukut jagadte merga Kelud

sabtu, 15 februari 2014
--------------------------
ctt : pasir gunung apapun berasal dr magma bumi,
yang mengandung belerang bahkan sianida


* Arieyoko – Penggagas Sastra Etnik dan Pendiri KSMB (Kelompok Seniman Muda Bojonegoro). Karya bukunya dalam Antologi Puisi Merapi Gugat, Kumpulan Puisi Laki-Laki Berwajah Nasi. Mengelar acara rutinan Sastra Etnik di berbagai kota.

Kota Bersolek Cahaya - Puisi Mahbub Junaedi

Kota Bersolek Cahaya

semalam tidur berpeluk cahaya langit
ditembangi nina bobo pecundangi mimpi
angin cemburu menghempas dingin, kesal
aku bergeming saat bulan menyapihku

mimpi tersipu menutup layar saat stage roman tak tuntas
sekuntum mawar terbaring di dada membercak merah
mewangi mistis di ruang-tuang berasap setanggi
pada temaram puisi bersalut mantera dalam kalut mendera

rumput merumpun di sela amarilis bertutur bait-bait liris
gitar teronggok berselimut lembar tabulatur penuh partitur
mencair nadanada, mengalir sedarah di sela nadi
melipur, membalur binar  di sudut taman jiwa

rebahlah pengelana malam, saat pikiran membara di negeri awam
selaras lara dari mimpi yang hempaskan selasar asa
punguti embun  gosong yang tertimbun dari bara kertas selongsong titinada
semalam menggumam diri, tempias air mata teja dalam rintihnya
 
Sanggar Sunyi, 210913, 02:46



Pentas di Opera Mini

masih menunggu mentari menghunus cahaya
kurunuti senja hingga sembunyi di balik siluetmu
ada kelam di wajah, bintang memijah di hitam bola matamu
kota mulai bersolek  denyar cahaya yang molek saat kau tuang di ruang getar
puisi menggugat  di altar dewan,  sedang aku mencumbu di pelataran

peluk itu... berhamburan degup-degup..
kucubit bulan sabit, aku merasa sakit
tertidur disela mimpi wahai puisi, esok kukumandangkan dari pelukan dingin
saat ini hanya kunikmati yang sepenggal, tergagap ketika terpental

aku terkuyup  ketika meraup segugus puisi:


“Di Pelataran Ketika Menggelar Sepi

            ingatkah tentang debar yang kau
          degupkan lantaran sua tak terelakan?
           dada-dada sembunyikan denyut liar, tatap
           tajam merayap pori-pori
           meremang dan gamang untuk berpisah, lalu
           tuntaskan bias-bias rasa saat momen itu merajam pendam
           adinda adalah kiasan”

pulang sambil merebus malam, meski kantuk menyengat
harus ada yang terburai, paling tidak suatu rasa tergadai
dari pertanyaan yang selalu memelintir rasa enggan
(atau kemalasan yang diperam banyak alasan)

Sanggar Sunyi, 210913, 16:53



camar

wahai, kuendus asin lautmu
ombak menamparku hingga terpelanting
berlumur pasir dan terantuk karang
camar mendekat, membisik tentangmu

... aku siuman saat api unggun menari-nari di depanku,di dekat tenda ada sesosok sedang memandang laut lepas dengan rambut tergerai, aku beringsut dan pura-pura tertidur...

kuendus lagi asin lautmu
saat pagi terhidang kopi hitam
ada siluet membelakangi fajar
dan setitik embun pada sehelai rambutmu

2013



Mahbub Junaedi - Saat ini tinggal di Jl. Raya Grengseng 10 Rt 3 Rw 10 Desa Taraban Paguyungan Brebes Jawa Tengah. Beberapa puisinya termaktub dalam beberapa antologi, diantaranya Antologi Puisi Deru Awang-Awang, Antologi Puisi Jejak Sajak BPSM, Antologi Puisi Penyair Lintas Daerah Indonesia; Indonesia dalam titik 13.







Sajak Perantauan di Negeri Singa - Puisi Melur Seruni

Oleh: Melur Seruni


««hujan dan kenangan»»

Lorong kenangan itu telah sepi
Sudah lebih dari ratusan purnama terbiar
Semakin dingin,pekat dan mencekam
Ditingkahi rinai yang kian lebat
Pada dinding dinding bisunya yang;pilu,beku penuh syahdu di masa lalu

Masing masing hati pemilik kenangan itu
Kini mengabadikan hujan
Satu darinya telahpun berpunya
Namun sketsaNya belum jua
Turun pada sang pemuja hujan yang satunya
Hujan senantiasa meraut luka
Pada bekas kenangan sebuah cinta

Dalam masa yang sama,takkan kugali lagi
Kubur kematian yang tak bernisan itu kekasih
Bongkakmu menutup segala pintu,pada setiap penjuru kalbuku
Bahkan jika kunci emas kau pandekan
Pada resi yang sakti mukti
Hati ini telah mati sayang,bahkan telah hancur lebur
Adakah debu debu kasihku yang berkecai,
Mampu kau satukan kembali
Sedang berdirimu menatang tungku api

Kota Singa 08072013||01:45


~jejak kenangan;perantau~

Tiba masanya terlukis semua
Setiap jejak langkah
Pada lorong panjang
Sebuah pengembaraan

Gelak tawa
Luka lara
Menjadi serupa
Bunga-bunga
Di bumi suaka

Angin mulai bertiup
Dari barat menuju ke timur
Menerbangkan kidung rindu
Syahdu nan pilu berharap temu
Bangau telahpun terbang berpulang
Menuju kesarang

Ada yang terpahat
Jejak-jejak yang tersurat
Pada setiap kenangan yang melekat
Sebagai penawar serta obat
Jika kerinduan tak lagi terawat

Kota Singa 01092013||16:00


~Kesuma Taman Gelora~

Adalah rasa yang tak dapat ku pungkiri
Namamu sering bermain main,pada ruang hati serta fikiranku
Bahkan tiada dapat kujauhkan suaramu dari indera dengarku
Aku simpan rasa yang tulus
Pada pundi pundi rindu
Yang penuh serta indah

Andai hajat tinggallah harap
Biarlah nafas terakhirku
Sebagai pemutus asaku
Andai rindu tiada bersambut
Biarlah degupan terakhir jantungku
Sebagai penutup segala cinta

Wahai sang pemberi ilham
Namamu indah seindah budi bahasamu
Tiada pernah kau kecewakan diriku
Lantas adakah itu kurang bagiku
Biarlah namamu tersemat dalam benakku
Sebagai kesuma di taman gelora
Abadi namamu membiru dalam diriku

Kota Singa 07072013||23:45


Melur Seruni - Perempuan yang gemar dengan pantun, puisi dan cerita pendek ini kelahiran 4 Agustus 1979. Puisinya dimuat di Surat Kabar Sabah Times, selain diterbitkan dalam antologi bersama 113 penyair berjudul Rindu, Cinta dan Kematian. Tergabung di Antologi Puisi Menolak Korupsi. Saat ini tinggal dan bekerja di Singapura

Jadi Togong atau Semar - Puisi Martinus Bong

Jadi Togong atau Semar - Puisi Martinus Bong

sikap tergantung lakon
jadi Togog atau Semar
seperti main "dakon"
selalu ada bagian samar

tidak pernah minta jadi apa
tahu-tahu saja sudah dicap
tidak pernah milih jenis sotonya
tahu-tahu sudah kebanyakan kecap

untung, dari bayi terlatih
makan nasi putih garam kotak
hidup tidak dapat memilih
di mana takdir diri terletak

bila jadi Togog, berbahasa gelap
jadi Sang Hyang Ismaya, kentut saja
senjata pamungkasnya memang mantap
meski diri didapuk jadi rakyat jelata.

(bila terpaksa jadi Cakil
bukankah "jail methakil"?
begitu saja tak paham
apa minta di-"gendam"?)

SSLawanArus47.JalaArt21112013.00:48.-

Kajian